Ibu Pertiwi

Ku lihat IBU pertiwi sedang bersusah hati, air matanya berlinang mas intan mu terkenang…

Sepenggal lagu yang selalu terngiang dalam benak saya sejak menyaksikan sebuah liputan di salah satu TV swasta beberapa saat yang lalu. Lagu ini selalu membahana ketika Indonesia mengalami bencana, demi mengingatkan kita bahwa semua bencana tersebut tak lain adalah karena ulah kita sendiri.

IBU pertiwi, tentunya mengacu pada negara yang sejak hari pertama kehidupan kita dulu sudah kita hirup udaranya, yang sejak saat itu pula sudah kita cemari dengan suara tangisan kita. Yang setelah beranjak dewasa baru kita ketahui bernama Indonesia. Dan jika Indonesia berwujud manusia, maka ia sudah pantas disebut kakek dan memiliki sedikitnya dua orang cucu. Lalu, mengapa penggubah lagu tersebut memberi julukan IBU pertiwi untuk Indonesia? Apakah mungkin karena Ia yang memeluk kita dengan kehangatan mentarinya? Apakah karena ia yang ikut menangis bahagia di penghujung tahun dan memberikan kita tanah gembur untuk ditanami bibit tumbuhan? Karena ia yang sudah membentangkan tubuhnya di hamparan cakrawala dan memberikan nyamannya udara tropis bagi kulit eksotis kita? Yang pasti, IBU pertiwi memang sudah memberikan kita kenyamanan luar biasa hingga tak perlu merasa begitu kedinginan karena salju dan panas selayaknya di gurun Sahara. Sampai kini, saat ia sudah beranjak tua, kita lupa untuk membalas budi dan menjaga kelestariannya. Kita tak lagi menjaga kebersihannya, kita cenderung tak lagi peduli akan kesehatan IBU pertiwi kita ini.

Persis sama seperti dua kisah yang akan saya ceritakan di bawah ini.



Mereka bernama Mak Tarso dan Nenek Aminah. Dua potret ironis dari sikap ketidak pedulian seorang anak kepada IBU kandungnya sendiri. Mak Tarso sampai harus membangun tenda di pinggir jalan dan tinggal di sana demi menunggu kedatangan anaknya yang bahkan sampai berita tersebut diturunkan tak pernah diketahui keberadaannya. Nenek Aminah bernasib tak jauh miris, ia disingkirkan anak kandungnya sendiri ke sebuah kandang di samping rumahnya karena tak lagi ingat di mana ia harus membuang hajat.

Here goes the complete story:

Mak Tarso, ditemukan kru Trans TV tinggal di sebuah tenda kecil di pinggir jalan. Ia mengaku sedang menunggu anaknya menjemput. Saya terlambat menghidupkan TV untuk mendengarkan cerita lengkapnya, namun saat saya memindahkan channel ke Trans TV, terlihat seorang bapak sedang menggendong Mak Tarso yang meronta-ronta sambil meracaukan kata-kata yang tak saya dengar jelas. Kemirisan semakin bertambah levelnya saat narator mengatakan bahwa Mak Tarso menolak dipindahkan dari tendanya tersebut bahkan setelah diiming-imingi kehidupan yang lebih layak. Ia baru terlihat tertarik dan senang saat salah satu kru memberinya surat yang ‘diakui’ ditulis oleh seseorang dari sebuah kerajaan entah apa yang memerintahkannya untuk meninggalkan tenda kecilnya dan pindah ke sebuah istana yang sudah disiapkan oleh kerajaan untuknya, pribadi. Istana itu, tentunya, adalah sebuah panti sosial.

Lain lagi kisah nenek Aminah. Anak kandung nenek Aminah dilaporkan tetangga mereka ke polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan dan penganiayaan karena telah membuang nenek yang terlihat kurus kering ini di sebuah kandang kambing di samping rumah mereka. Kalau tidak salah, nenek ini juga dipasung di sana. Nenek Aminah ditemukan dalam keadaan mengenaskan saat kru Trans TV mengunjunginya. Kaki dirantai di sebuah kandang, tubuhnya kotor dan bau. Anak kandung mereka mengatakan alasan mereka menempatkan nenek Aminah di kandang tersebut adalah karena nenek tersebut sudah pikun dan sering buang air di mana-mana.

Dua potret nyata bagaimana seorang IBU tak lagi dihargai dan dicintai selayak mereka mencintai kita sejak lahir dahulu. Seiring dengan jerit tangis pilu mereka, IBU pertiwi ikut meneteskan air matanya. Entah berapa banyak kasus serupa terjadi di luaran sana, saya bahkan tak berani membayangkan yang lebih buruk daripada itu. Jika seperti itu perlakuan seorang anak terhadap ibu kandungnya sendiri, sudah tak lagi mengherankan jika hal lebih buruk dilakukan untuk orang lain, atau bahkan IBU pertiwi. Berkaca pada diri sendiri, sudahkah kita mencintai IBU dengan selayaknya?

Dirgahayu Indonesiaku, aku cinta IBUku…

-bee-

17 AGUSTUS 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s