Vice Versa – Alanda Kariza

Saya sempat mengira kalau buku ini adalah sebuah novel, berisikan satu cerita panjang tentang seorang laki-laki dan perempuan dan kisah pertemuan mereka hingga akhirnya berujung (yah, apa lagi kalau bukan) cinta. Tapi saya salah, saya mendapatkan lebih banyak kisah di sini, lebih banyak air mata dan lebih banyak sesak di dada haha… aduduh.. belum apa-apa sudah berlebay ria. Tapi bener deh, sudah lama saya nggak baca buku dan beneran nangis karena ceritanya. Saya bahkan merasa perlu untuk menghubungi Alanda saat selesai membaca cerpen pertama, dan mengatakan langsung reaksi saya itu. She really got me!

Well, here goes the complete review. Enjoy..

VICE VERSA

Author: Alanda Kariza

Publisher: Terrant Book

Page: 180

Alanda membuka sajian istimewanya dengan sebuah cerpen yang bertajuk sama dengan yang ada di sampul buku, Vice Versa. Kisah tentang seorang gadis yang baru saja putus dari kekasihnya tanpa tahu penyebabnya. Gadis itu hanya mendapat penjelasan bahwa seperti datangnya cinta, tak ada alasan jelas mengapa ia bisa hilang begitu saja, laki-laki itu sudah tidak cinta, titik. Si gadis yang patah hati ini selalu bertanya-tanya dan menerka-nerka kesalahan yang telah diperbuatnya hingga berdampak seperti saat itu, sampai akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang seolah memang sudah dikirim Tuhan untuknya mengerti bahwa tanpa ada alasan apapun, seperti datangnya, cinta bisa hilang begitu saja. Vice Versa…

Selebihnya, di 17 cerpen lainnya Alanda seolah memecah bola kehidupan di depan matanya dan memasuki raga berbagai karakter lalu mulai mengamati satu per satu, menuliskannya menjadi sebuah kisah. Ia ambil banyak sudut pandang dan menyajikan cita rasa yang berbeda di setiap cerpennya. Lihat bagaimana ia menjelma menjadi anak berusia sembilan tahun yang suka bersembunyi di balik lemari sambil memeluk foto keluarganya dalam POTRET. Lihat bagaimana ia menjadi laki-laki yang mengaku kalah pada egonya karena tak dapat berjuang demi wanita yang dia cintai pada cerpen IKAN. Lihat bagaimana ia menjadi laki-laki dewasa yang sudah lama tak bertemu ayahnya karena sibuk dengan keluarga kecilnya sendiri, bagaimana ia mempersiapkan sebuah kejutan untuk ulang tahun ayahnya itu pada BUKU DAN GULA AYAH. Lihat bagaimana ia bertutur tentang kekejaman perilaku anak sekolah penganut senioritas di cerpen TIRAI. Alanda bahkan bisa keluar dari dirinya sendiri yang belum genap berusia dua puluh tahun dan menjelma menjadi Diandra yang berusaha untuk keluar dari kehidupan pernikahannya dengan Yudhis yang berawal dari perjodohan keluarga dalam cerpen BUNGA. Namun kemudian dia kembali pada sosoknya sendiri untuk kemudian bertutur tentang percintaan remaja yang PLATONIK dalam cerpen berjudul sama. Serta masih banyak lagi cerita pendek dengan tema sederhana namun sering luput dari perhatian kita.

Seperti yang saya ungkap di awal tadi, Alanda mampu menuliskan kisah-kisah yang menyentuh dengan pilihan kata menarik yang tak banyak dimiliki gadis seusianya. Namun tak dipungkiri memang ada beberapa cerpen yang membuat saya bosan dan enggan membacanya baris demi baris, yang penting tahu intinya lalu sudah, lupakan saja. Tapi semua itu terlupakan oleh suguhan kalimat dan kutipan menarik dari lagu-lagu yang sesekali tersisip di beberapa cerpen yang saya pribadi jarang mendengarnya. Satu hal yang ingin saya pelajari setelah membaca buku ini adalah membuat fiksi yang didominasi deskripsi dan minim dialog namun tak membosankan untuk dibaca. Kecerdasan Alanda mampu mewujudkannya dan buku ini adalah buktinya.

Di usianya yang relatif muda, Alanda tampak fasih menuliskan kisah-kisah yang terjadi pada orang-orang yang lebih tua darinya. Meski belum pernah menginjakkan hidupnya dalam usia tersebut, ia berani mengobrak-abrik khayalnya dan menganalisa sebuah peristiwa sehingga menjadi satu cerita. Walau saya masih bisa merasakan sosoknya yang perempuan saat menuliskan tokoh laki-laki, masih bisa menemukan aura remaja saat ia bertutur tentang Diandra, masih bisa menemukan kedewasaan saat ia berkisah tentang anak kecil yang rumahnya terkena gusur. Well, meski bukan karya pertamanya buku ini tetap saya anggap sebagai awal yang sudah lebih dari baik untuk Alanda yang bermimpi ingin membuat kumpulan cerpen sekaliber Filosofi Kopi milik Dee Lestari. You go girl, acungan jempol buat gadis putih mungil dengan banyak talenta ini, saya masih menunggu karya-karya selanjutnya.

Cherios😉

bee

200510

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s