Have a Sip of Margarita (Love, Life, and Journey)

Well well well… akhirnya selesai baca buku lagi, kali ini nggak pake lama. Praktis dua hari saya membabat habis buku dengan tebal 198 halaman ini. Karena baca buku ini udah macam judul lagu dangdut salah seorang Diva itu lho… ‘candu’.
Here goes the review…
Have a Sip of Margarita (Love, Life, and Journey)
Author : Margareta Astaman
Editor : Neni Indah Fitriani
Desain : AdeirRa
Penerbit : Azka Media
Begitu melihat kaver bukunya beberapa waktu yang lalu (kalo nggak salah dapet dari si Jia juga deh, kenapa belakangan buku-buku yang saya baca hasil rekomendasi dia semua ya? haha.. tanya kenapa!!) saya sudah jatuh hati. Terkesan simple, sesuai dengan judul dan sophisticated. Dan di Indonesia ini, sampul yang menarik merupakan sebuah modal yang amat sangat penting untuk kelangsungan daya jual sebuah buku. Karena never judge a book by it’s cover bener-bener nggak berlaku sama sekali di sini. So… Margareta atau biasa dipanggil Margie sudah memegang syarat yang satu itu.
Tapi, bagaimana dengan isi?
Buku ini memang bukanlah sebuah buku fiksi yang menjual mimpi cinderella lengkap dengan pangeran tampan dan ibu peri nya, oh… jangan sampai ketinggalan kereta labu dan sepatu kaca. NOOO…. jangan harap menemukan semua itu di dalam buku ini. Pertama, ini bukanlah buku fiksi dan kedua Margie bukanlah Cinderella. Yep, inilah buku kumpulan beberapa tulisan Margie di blognya  http://www.margarittta.multiply.com . Dan seperti yang Dian Sastro tulis di punggung buku ini, Margie lihai sekali mengubah pengalaman sehari-hari jadi joke yang kocak banget!!!Dan marilah kita mengintip sedikit kehidupan Margie yang terbagi menjadi enam chapter dalam buku ini;
Chapter 1. Ngomongin Perempuan
Pada chapter awal ini, Margie memasukkan perawan, jurnalis, playboy, dan pelacur ke dalam shaker ide nya dan mengocoknya sedemikian rupa hingga terciptalah sebuah tulisan yang menarik tentang hubungan semua karakter itu dalam satu sosok, perempuan. Bagaimana ia menganalogikan seorang ibu rumah tangga sebagai pelacur, dan bagaimana ia bisa menyusup pemikiran para teman-teman playboy nya untuk kemudian dibagi sebagai referensi semua pembaca perempuan. Dari tulisan-tulisannya pada chapter ini, saya jadi bisa mengambil banyak pelajaran yang mungkin sebenarnya memang sudah saya ketahui tapi yah.. lebih memilih untuk menyisihkannya ke relung logika paling ujuuung sana di dalam otak. Margie secara gamblang seperti menampar-nampar semua pembaca perempuan untuk lebih tersadar dari mimpi. Hey… playboy is all around girl! come on wake up!!
Chapter 2. SARA (Suku-Agama-Ras–… errr apa lagi, ya???)
Margareta ini adalah seorang keturunan Cina-Katolik yang kemudian berkuliah di Singapura (sekarang sih udah kerja di Indonesia, MSN bok! i don’t even know ada kantor MSN di Indonesia, okelah okeee… saya yang cupu). Di chapter ini dia banyak bercerita tentang pengalamannya menjadi seorang Sino yang tak diaku pribumi di Indonesia dan dituduh tak cukup Sino di Singapura sana. Hahaha… i’ve heard the same case a lot though. Saya terkagum-kagum sendiri dengan cara berfikir dia di chapter ini, terutama saat dia bercerita tentang seorang teman kecilnya yang seorang pribumi dan muslim. Bagaimana sejak kecil mereka sudah ditanamkan sebuah sugesti bahwa mereka berbeda. Orang tua si pribumi kemudian memindahkan anaknya yang awalnya satu sekolah dengan Margie di sekolah katolik ke Al-Azhar dengan alasan, agar lebih berbaur dengan sesamanya. Margie dengan polosnya mempertanyakan maksud alasan tersebut. Namun di akhir cerita dia menyimpulkan dengan bijaksana bahwa memang perbedaan itu harus ditanggapi dengan sikap seperti itu. Bagaimana kemudian saat dia mengembalikan hal tersebut ke dalam kehidupannya sendiri, dia juga pasti akan memilih jalan yang sama seperti orang tua teman kecilnya itu. Membaurkan anaknya ke dalam komunitas sesamanya.
Chapter 3. Indonesia Pusaka
Haha… kalau yang ini, isinya adalah keluh kesahnya selama berkuliah di Singapura. Selama ini saya selalu punya bayangan kalau kuliah di luar negeri itu akan jauh lebih menyenangkan. Oke lah kita ambil Singapura, kota nya saja sudah tentu jauh lebih teratur dari Jakarta, lebih bersih dan pastinya banyak sarana-sarana yang jauh lebih mudah aksesnya dibandingkan di Jakarta, err… oke.. dibandingkan di Depok (seumur hidup, saya nggak pernah menuntut ilmu di luar Depok, itu bisa disebut ironis nggak ya?). Tapi dari tulisan Margie di chapter ini, saya jadi jauh lebih mengerti minus-minusnya merantau di luar negeri. Mau makan rendang aja susah bener macamnya di sana itu, yak bukan makannya sih yang susah, tapi proses mengeksport nya itu lho yang nggak gampang, hahaha…
Oh oh… ada Chinchya Lawra jyugha dyi bahays dyi siniyh… that’s hot! (Cinta Laura apa Paris Hilton sih?)
Chapter 4. Semi Curhat
Yah… sesuai dengan judulnya lah, isinya memang curahan hatinya saat suatu kali mendadak merasa takut miskin. Truss bagaimana dia menjabarkan fakta tentang dirinya yang shopaholic dan selalu melakukan manuver denial terhadap fakta itu. Sampai bagaimana dia membandingkan cara nya menghabiskan tahun baru, lalu menghubungkannya dengan kebahagiaan yang sejati. Nah loh… komplikasi tercium lah sudah haha..
Chapter 5. Bisik-Bisik Tetangga
Duh, saya mulai capek nih nulis reviewnya. Baca sendiri aja ya. haha…
Chapter 6. Hopeless Romance
Nah kalo yang ini chapter yang paling menohok buat saya. Mungkin karena Margie merupakan sosok yang sama dengan saya yah di buku ini, single maksudnya hahaha… di chapter ini banyak banget cerita yang menggugah pemikiran saya. Pasti chapter ini nih yang membuat Emmy, teman saya memaksa-maksa saya untuk membaca buku ini.
“Un un… loe harus baca bukunya Margareta Astaman yang kemaren dipinjemin Danang ke gue Un, pikiran loe pasti bisa lebih kebuka deh.” begitu katanya.
Emang selama ini ada apa dengan pemikiran saya ya? Saya khan baik-baik aja, nggak ada yang salah dengan saya. Saya tahu dengan pasti apa yang saya butuhkan untuk menyelesaikan masalah-masalah saya, dan selama ini saya cukup tegar kok menjalani kehidupan saya, sebagai single. Desperately in denial mode : CHRONIC. huahaha…
Yah well… lagi bosen dan nggak tau mau baca buku apa? This book definitely will cure your boredom🙂
cherios
-bee-
180210

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s