The World At My Feet

Saya dah lamaaaa banget nggak nonton teater, terakhir nonton kayaknya tahun 2006 deh di Pertemuan Tahunan FIB UI. Itupun bukan pertunjukan profesional macam teater koma gitu. Ini sih cuma sebuah ajang pamer masterpiece berupa pertunjukkan teater dari setiap jurusan yang kemudian dilombakan, begituh.

NAH… hari selasa, tepatnya tanggal 9 Februari kemarin akhirnya saya nonton teater lagi. Kali ini karena yang main sahabat saya hahaha… Jadi waktu berada di ruang kontemplasi awal bulan kemarin, Tasya sahabat saya sempet ngomel-ngomel waktu saya bilang baru akan pulang ke Jakarta akhir bulan. Itu artinya saya akan melewatkan launching buku terbaru dia dan pertunjukkan teater ini. Lalu minggu kemarin ande saya nelfon dan mulai tanya-tanya, ini kakak kapan pulangnya sih? Banyak yang harus dikerjain katanya. Well… ya oke lah akhirnya saya putuskan untuk pulang saja hari seninnya. Penasaran juga sama hasil latihan Tasya beberapa bulan ini yang bikin sekujur badannya biru-biru kayak abis kena KDRT.

Ternyata memang lumayaaann… apalagi banyak bule bertebaran di mana-mana pas acara itu. Karena pertunjukkan ini memang merupakan kolaborsi dari Teater Tetas produk asli bulungan dan Project Phakama yang diimport langsung dari London hehe… Tapi sayang ndak ada yang mendekati selera saya, myeh!!! (sok jual mahal ;p)

Bon Appetite…

The World At My Feet (A Play About Worlds, Stories, and Dreams)
Pemain : Juancho Gonzales, Regis Gnaly, Salwa, Sam, Jenny, Artasya, Ayat Muhammad, Jerryanto, dll.
Sutradara : Corinne Micallef, Fabio Santos, Ags. Arya Dipayana, Harris Syaus
Penata Musik : Nanang Hape

Pertunjukkan dibuka dengan kemunculan seorang laki-laki dengan kostum sewarna tanah yang memperkenalkan dirinya sebagai penjaga bumi, atau dewa bumi, atau apa gitu (kok ya malah lupa). Laki-laki ini bercerita tentang keadaan bumi saat itu yang sudah semakin memprihatinkan. Di mana tak banyak lagi pepohonan karena tereliminasi oleh bangunan-bangunan gedung, tempat tinggal dan jalan raya. Lalu di akhir monolog, ia menunjukkan sebuah gumpalan putih dalam genggamannya yang ternyata adalah benih terakhir di muka bumi ini. Ia mengajak penonton untuk ikut dalam perjalanannya mencari tempat yang tepat untuk menanam benih tersebut.

Tempat Pertama (Kota Metropolitan)
Di sini kita akan disajikan kesibukan metropolitan yang tentunya nggak asing lagi bagi sebagian besar orang yang tinggal di Jakarta. Bersetting kan di sebuah palang kereta api pada saat tertutup, tanda kereta akan lewat. Bagaimana semua orang terlihat nggak sabar menunggu kereta tersebut lewat, belum lagi para asongan yang berlomba menjajakan dagangan mereka. Lalu di tengah kericuhan tersebut, seseorang karena saking tak sabar, akhirnya nekat menyebrang rel dan BOOOMMM… dia tertabrak kereta. Hmm… familiar with this case anybody?

Then fakta kedua tentang Metropolitan, adalah masalah waktu dan KETERLAMBATAN. Coba tunjuk tangan ya kamu-kamu yang punya nama terngah terlambat, di scene ini kamu mungkin akan menemukan karakter yang sangat mirip dengan kamu. Kalau saya? definitely bukan karakter yang dimainkan oleh Tasya, hahahaha…. jangan kaget ya kalo tiba-tiba ada satu cewek yang berteriak telat tapi agak terkesan keluar konteks, padahal nggak lhoo.. hihi..

Lalu scene ini ditutup dengan monolog beberapa pemain yang mewakili beberapa profesi tentang suka duka pekerjaan mereka. Saya suka monolog yang ketiga, seorang guru yang punya impian menjadi pemain drama (mungkin broadway ya maksudnya). Di mana dia berkoar-koar begitu antusias tentang impiannya tersebut dan ditutup dengan kalimat. “Yah well… i’m still a teacher though, until now” hahaha… kayak ditampar gitu saya. Kadang kita lupa meraih mimpi kita sendiri karena sibuk mempertahankan kehidupan yang kita punya. Padahal hidup khan cuma sekali🙂

NAH… jelas donk kenapa setting pertama ini nggak cocok sama sekali untuk jadi tempat ditanamnya benih terakhir tadi?

Tempat Kedua (Paradise)
Sepertinya setting kedua ini adalah hutan. Karena semua pemain tiba-tiba menjelma menjadi binatang, dan ini SUMPAH KEREN BANGET!!!! semua orang terlihat menjiwai perannya. Apalagi yang jadi monyet dan burung kakak tua tuh, SUNGGUH MENDEKATI ASLINYA! Saya sampe mikir, ini apa sebelum latihan mereka observasi kelakuan binatang-binatang itu dulu ya di ragunan? hahaha…

Lalu muncul manusia-manusia yang menyabotase tempat ini dan membangun rumah mereka. Walaupun terkesan mencuri surga binatang-binatang tersebut, tapi sebenarnya manusia ini sangat menghargai alam. Terlihat dari bagaimana mereka menjaga kehigienisan tempat tinggal mereka. Semuanya terlihat harmonis, semuanya terlihat pada tempatnya. Tapi tahu nggak apa yang sejajar dengan sesuatu yang terlalu teratur dan pada tempatnya? KEBOSANAN haha.. benar saja, orang-orang itu dilanda kebosanan sampai mereka menemukan sebuah gadget yang bernama kamera. Mereka heboh deh foto-foto. Sebenernya mah menurut saya handphone atau bahkan blackberry jauh lebih cocok jadi perwakilan gadget ini.

Sebenarnya tempat ini cocok banget untuk ditanami benih terakhir. Tapi semua orang di sana merasa memiliki tempat itu dan nggak rela menyisihkan sedikit saja tanahnya untuk ditanami satu-satunya harapan tersebut. Gagal lagilah misi si manusia bumi itu.

Tempat Ketiga (Tempat Pembuangan Sampah)
Ini sebenarnya tempat yang tak banyak diperhatikan orang. Di mana para pemulung mempercayakan kehidupan mereka pada sampah-sampah yang ada di sana. Mulai dari melipat kardus-kardus bekas, sampai mencuci kaleng-kaleng minuman ringan, entah untuk apa. Lalu tiba-tiba muncul Cruella Devil berdiri pongah di tumpukkan sampah tersebut membagikan uang upah sebesar lima puluh ribu rupiah. Tak lama kemudian muncul lagi si botak yang ternyata adalah landlord (OMG saya lupa bahasa indo nya apa >_<) di sana yang meminta upah saat itu. Tebak berapa besarnya? lima puluh ribu juga. Udah gila… pusing saya mikirin kenyataan di luaran sana yang pastinya nggak jauh beda dari itu. Truss mereka makan pake apa donk?

Lalu bagaimanakah endingnya? Apa yang manusia bumi itu lakukan saat dia kehilangan benih terakhirnya? Kamu harus nonton sendiri, barusan Tasya bilang kalau pertunjukkan ini akan kembali diadakan nanti malam di British Council Jakarta.

Satu hal lagi yang sangat menarik dari pertunjukkan ini adalah dialognya yang dilakukan dengan multi bahasa. Ada yang ngomong bahasa Inggris, bahasa Indonesia, Bahasa sunda, bahasa jawa, bahasa minang, sampai bahasa prancis. Tapi tak ada satupun percakapan itu yang keluar konteks. Semuanya pas loh… kalo A nanya pake bahasa Inggris, nanti si B jawab pake bahasa sunda, dan itu dialognya pas. Saya nggak berenti senyum nontonnya.

Yah well… happy watching people..

cherios ^^v

-bee-
110210



3 thoughts on “The World At My Feet

  1. Pingback: Late Post (Friday Night) « A Happy Ending Seeker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s