Ruma Maida

Seperti layaknya sebuah naskah, tanpa diikuti dengan editing dan pengemasan kaver, sinopsis, dan layout yang baik maka dia tak akan menjadi sebuah buku yang menarik. Itu yang saya tangkap pada film ini. Dengan cerita, skenario dan dialog yang begitu bagusnya, Ruma Maida menjelma menjadi sebuah film dengan kualitas yang biasa-biasa saja, bahkan saya pribadi menilai film ini telah gagal mengungkapkan pesonanya. Mengecewakan, bagaimana sang sutradara dan pemain mencabik-cabik pesan cerita menjadi terkesan tak lagi berisi. Mengganggu… sangat mengganggu.

Suatu kali, di salah satu sesi rapat promosi Mizan bersama Pak Putut Widjanarko saya berkesempatan untuk pertama kalinya mendapatkan sebuah undangan premier film. Ruma Maida, jujur saya baru mendengar judul tersebut pada detik itu. Karena Pak Putut dan salah satu kolega nya tidak bisa datang saat itu, maka saya menggantikan beliau, datang bersama teman saya.

Itulah pengalaman pertama saya menghadiri premier sebuah film. Kikuk dan merasa seperti berada di antah berantah, saya dan teman saya hanya dapat terdiam dan berusaha memperhatikan sekitar tanpa ada keinginan untuk berbaur (kalau saya sih, entah teman saya). Saat kami datang, di panggung sedang dilangsungkan sebuah sesi tanya jawab dengan pers. Lalu disambung dengan penampilan NAIF yang menyanyikan beberapa lagu soundtrack film ini, dan kemudian kami semua digiring menuju studio sesuai dengan sticker pada undangan.

Selama beberapa menit, layar hanya menayangkan trailer film ini dan beberapa pesan sponsor. Jujur saya terkesan sekali dengan trailernya, desainernya berhasil memotong dan menyatukan adegan demi adegan menjadi sebuah trailer yang mengundang. Lalu, bagaimana dengan filmnya? Well… here goes the review…

Ruma Maida
Pemain: Atiqah Hasiholan, Yama Carlos, Davina Veronica Hariadi, Imelda Soraya, Nino Fernandez, Wulan Guritno, Frans Tumbuan, Verdy Solaiman
Sutradara : Teddy Soeriaatmadja
Penulis Skenario : Ayu Utami

Film ini bercerita tentang Maida Manurung (Atiqah Hasiholan), seorang gadis idealis yang dengan inisiatifnya sendiri membuka sebuah kelas kecil-kecilan di sebuah rumah tua. Di sela pengerjaan skripsinya, Maida mengajarkan beberapa anak jalanan banyak hal. Sejarah adalah sebuah subjek yang paling banyak Maida ajarkan kepada anak-anak asuhannya tersebut. Suatu hari, sebuah orkes betawi yang beranggotakan dua orang kakek dan seorang nenek menghampiri mereka di rumah tua tersebut. Terkesan dengan permainan musik mereka yang menyanyikan sebuah lagu lawas (saya lupa judulnya apa) yang ternyata dituliskan oleh Ishak Pahing, Maida memutuskan untuk mengangkat lagu tersebut dan Ishak Pahing sebagai tema skripsinya.

Di perjalanannya mencari tahu sejarah lengkap Ishak Pahing dan rumah tua yang ternyata dulunya memang tempat tinggal Ishak Pahing (Nino Fernandez) dan isterinya, Nani Kudus (Imelda Soraya), tiba-tiba saja datang nama Dasaad Mukhlisin (Frans Tumbuan) seorang pengusaha real estate yang bermaksud membeli tanah tersebut dan merubuhkannya untuk kemudian dibangun menjadi bangunan yang lebih modern. Pengusaha yang berkali-kali mengulang dialog ‘SAYA TIDAK PEDULI PADA SEJARAH’ ini mengutus Sakera (Yama Carlos) sebagai arsitek untuk mengurus pembangunan rumah tersebut.

Jadilah Maida dan Sakera terlibat sebuah hubungan rumit yang berkutat pada dilemma antara perasaan terhadap satu sama lain, kepentingan orang besar, dan sejarah.

Seperti yang saya tulis di awal tadi, sebenarnya ide cerita dari film ini sangatlah kuat. Dengan memadukan antara sejarah Indonesia sejak masih menyandang nama NKRI, dipadu ramuan masa lalu Ishak Pahing yang keturunan Belanda dan isterinya yang asli Indonesia, sampai dengan pencarian misteri yang tersimpan dalam rumah tersebut, hingga terungkapnya identitas anak kandung Ishak Pahing. Sebenarnya film ini bisa menjadi sebuah tontonan dengan nafas Nasionalisme yang kental. Dengan membidik moment sumpah pemuda sebagai waktu pemutaran perdananya, seharusnya film ini bisa menjadi tamu istimewa di hati pemuda Indonesia.

Sayang beribu sayang Teddy Soeriaatmadja sepertinya gagal memvisualisasikan cerita yang dituturkan Ayu Utami dengan begitu apik ke dalam sebuah gambar. Banyak blooper tersisipi, dan potongan demi potongan adegan terlihat tak rapi. Lihat saja ketimpangan emosi Maida saat ia masih berada di dalam rumah tua itu bersama Sakera dan memberikan pengertian pada Sakera betapa tak semua orang itu beruntung karena memiliki pekerjaan, apalagi pekerjaan elit seperti yang dijalani Sakera sekarang ini. Emosi Maida saat itu terlihat datar saja, hanya nada bicaranya dibuat sinis. Lalu scene berpindah ke luar ruangan, di mana Maida berjalan tergesa, dengan emosi seperti habis menonjoki banyak orang sampai tasnya jatuh dan uang receh di dalamnya berhujanan keluar, lalu ia memungutinya seperti orang yang kesetanan. Saya saja sampai kebingungan sendiri melihatnya, komentar saya saat itu “Duh… perlu ya rebek banget kayak gitu? Biasa aja donk mbak…”

ADA LAGI… waktu hmm anu… err… nggak jadi deh, kalo diceritain nanti jadi spoiler soalnya hahaha…

Over all saya kecewa dengan film ini. Sepanjang film nggak habis-habisnya protes saya dengar dari mulut teman saya:

“Itu kenapa begitu sih??”
“Menurut kamu perlu nggak adegan ini ada??”
“Ya ampun mbak, kok malah mainan piano sih?? dicari donk itu jawaban misterinya…”
“Argh… kamu aja deh yang tulis reviewnya”

BAWEL…

Pesan saya, tolong donk… somebody… kemas lagi film ini dengan lebih ciamik. Nanti… bertahun-tahun lagi juga nggak apa. Asalkan pesan yang mau disampaikan bisa benar-benar diserap penonton. Belakangan ini banyak muncul film-film yang dimaksudkan untuk menyentil rasa nasionalisme penonton, tapi entah ya semuanya masih berasa hambar. Masih mending nonton film G 30 S PKI yang zaman alm. Ongku Soeharto dulu tiap tahun diputar itu lho. At least pas nonton itu saya nangis dan meringis perih. Nggak malah ketawa-ketawa kayak kemarin.

Dan oh iya satu lagi, Nino Fernandez ganteng banget di sini haha… (dan cewek yang digandengnya nonton premier ini juga cantik banget, hhhzzz… *nyungsep ke tanah* )

-bee-
061109

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s