Red Like The Sky (KidFest 2009)

“Do you have a very good one?? I mean for me to put on this vote box??” Begitu tanya saya kepada panitia yang mengumpulkan sobekan kertas vote di pintu masuk cinema selesai menonton film ini.

Ini adalah film kedua dari serangkaian film Kidfest yang saya tonton, sekaligus film paling menginspirasi. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dan hikmah paling besar mungkin adalah, Tuhan tidak menciptakan hambaNya dengan kekurangan hanya untuk berdiam dan terbuang. Manusia itu manusia paling mulia karena ia diberikan akal, bukan karena ia punya mata. Karena buta pun tak berarti tak bisa berbuat banyak di kehidupannya.

Here goes The Review, ENJOY


*********************************


Red Like The Sky (Rosso come il cielo)
Director : Cristiano Bortone
Writer : Cristiano Bortone, Paolo Sassanelli, dkk
Cast : Luca capriotti, Marco Cocci, Simone, Gulli, Francesca Maturanza, dll.


Mirco Mencacci, adalah gambaran dari seorang anak tunggal yang bahagia dan ceria yang mengetahui ketertarikan terbesar dalam hidupnya sejak dini. Mirco begitu mencintai film, setiap kali ada film baru diputar di bioskop kotanya, ia tak pernah absen untuk merengek pada ayahnya untuk diajak nonton.


Suatu kali, karena rasa ingin tahunya yang begitu besar, secara tak sengaja Mirco menjatuhkan senapan angin milik ayahnya yang meletus begitu menghantam lantai. Serbuk-serbuk mesiu pun terlempar ke kedua mata Mirco. Sekejap itu, Mirco kehilangan 80% dari penglihatannya. Sayangnya pada tahun 70an dulu, di Italia, anak yang dianggap cacat seperti Mirco ini tak diizinkan untuk belajar di sekolah umum. Mereka diasingkan di sebuah sekolah tuna netra, berkumpul dengan sesama buta.

Menjadi buta sejak lahir terdengar seperti derita yang paling menyedihkan, tapi bagi Mirco, tak lagi dapat dengan jelas melihat lambaian tangan terakhir ayah dan ibunya, saat melepasnya tinggal di asrama tuna netra itu, adalah sebuah kemirisan tersendiri. Akhirnya, Mirco yang selama ini selalu dihujani kasih sayang dan perhatian orang tuanya itu, harus beradaptasi dengan suasanya asrama.

Tak pernah merasa buta, Mirco menolak untuk belajar menulis dan membaca huruf braile. Tapi Don Giulio, guru kelasnya tak kehabisan akal. Ia berhasil membujuk Mirco untuk mau belajar dengan memberikan sebuah alat perekam. Alat ini pertama kali ditemukan oleh Mirco di sebuah lemari di ruangan bermain. Ia memanfaatkannya pertama kali untuk membuat tugas dari Don Giulio, membuat deskripsi tentang cuaca. Mirco, alih-alih menuliskannya dengan huruf braile, ia merekam suara-suara yang menggambarkan cuaca dalam benaknya. Rekaman ini, dipersembahkan untuk Francesca, anak tukang cuci asrama tuna netra itu.

This movie really inspiring, Mirco yang mengalami kemerosotan self esteem semenjak kehilangan penglihatan, hingga akhirnya buta sama sekali, pada akhirnya menemukan hobi baru yang bahkan dapat mengubah sejarah sistem pendidikan di Italia. Setelah akhirnya memproduksi sebuah pertunjukkan drama yang awalnya mendapat penolakan keras dari Kepala Sekolah, Mirco dan teman-temannya berhasil menyadarkan masyarakat bahwa kebutaan tak lantas mematikan kreatifitas seseorang. Sejak saat itu, pemerintah Italia mengizinkan para tuna netra untuk bersekolah di sekolah umum.

Last but not least, inilah quote yang indah, gambaran dari imajinasi Mirco tentang warna:

Blue, is like playing a bicycle and wind blows over your face
Brown is like the stems of the tree
Red, is like fire. Like the sky when the sun sets


-bee-
270709

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s