Queen Bee

I’m not writing this review because of the director treat me (and some of friends) to watch it together, dan dengan jujurnya meminta kami untuk menuliskan reviewnya. Atau bahkan karena saya ada di samping Mbak Tiara saat mereka ber-bbm-ria dan Nugros jelas-jelas memohon bantuan teman-temannya untuk menuliskan sesuatu yang berarti tentang karya pertamanya ini, di awal minggu releasenya.

Karena, kalaupun pada akhirnya saya harus menonton film ini sendirian dan dengan biaya sendiri pun, saya akan tetap menuliskan reviewnya. Karena mungkin, saya sudah begitu mengikuti perjalanan film ini sejak… I don’t know, forever??? saya bahkan mengikuti terus perkembangan blognya, that Queenbeediaries.

Saya ingat percakapan singkat saya dengan Nugros saat pertama kali bertemu dengannya di Brewww Café Kemang.

Saya       : Kenapa Queen Bee?
Nugros    : Queen Bee itu nama Bluetooth Rianti.

Aaaawww…. Ini yang saya suka dari karya-karya Nugros, berasa banget hatinya. Nugros memang ahlinya meramu fiksi dengan personal feelings semacam itu (walau belakangan [no hard feelings ya Cah Bagoes] cerpen-cerpennya semakin kehilangan cinta). Sounds cengeng dan dangdut memang, tapi saya yakin, dengan latar belakang yang seperti itu, dia nggak akan membuat film yang murahan. Rianti sudah seharusnya merasakan kupu-kupu di perutnya setiap mendengar judul film ini disebut, melihat posternya di mana-mana, atau bahkan membaca review yang semacam ini. Nyahaaa… ;p
Allrite… here’s the review…

Queen Bee || Movie Review

Director            : Fajar Nugroho a.k.a Fajar Nugros
Scriptwriter    :  Ginatri S Noer
Cast                     : Tika Putri, Mathias Muchus, Oka Antara, Reza Rahardian, Sarah Sechan, Dinar, Marsha Nartika, Annizabella Lesmana, dll.

Queenita Siregar, tak begitu menikmati keberhasilan ayahnya menjadi salah satu kandidat yang dipercaya rakyat Indonesia untuk menjadi pemimpin Negara ini. Seperti anak muda kebanyakan yang kehilangan kasih sayang orang tuanya (ibunya sudah meninggal sejak Queen berumur lima atau enam tahun dan ayahnya terlalu sibuk memikirkan nasib negaranya instead of thinking of his daughter happiness) Queen lebih memilih Gorontalo kehilangan dana bantuan untuk program solar home system nya daripada harus menerima kenyataan bahwa di ulang tahun nya yang ke 17 harus ia lalui seperti anak yatim piatu: sendirian, tanpa ibu dan tanpa ayah.

Queen pada awalnya memberontak, ia pergi bersama kedua sahabatnya ke sebuah club. Menikmati kehidupan malam. Sampai pada akhirnya satuan pengawal yang bertugas melindungi keselamatan keluarga calon presiden menemukan mereka dan bermaksud untuk membawa Queen pulang. Tapi, dengan cara mereka, lebay… porak poranda di mana-mana, helicopter, pengawal-pengawal dengan kaca mata hitam dan alat komunikasi mereka, mobil SUV, dan ehem… pangeran penyelamat. Yup… sounds like Chasing Liberty banget deh pokoknya ahahaha… ;D

Kenakalan Queen ini berakhir dengan pembicaraan serius dengan si ayah yang menyepakati bahwa mereka akan saling berusaha untuk mengerti satu sama lain. Rahmad Siregar (si ayah) nggak akan membatasi gerak-gerik Queen dan Queen berusaha untuk ikut ke dalam kegiatan kampanye ayahnya. Keputusan disepakati, dan jadilah mereka ayah anak yang saling menghargai.

Mungkin nggak terlalu banyak twist yang berarti terjadi pada film ini, tapi satu hal yang saya suka, film ini benar-benar menggambarkan sebuah option positif bagi anak muda Indonesia. Saya kadang prihatin melihat remaja seusia Queenita sedang tertawa-tawa di  pelataran mall atau bahkan menggosip di foodcourt while sebagian dari mereka sedang bingung, mikirin duit nyokap sama bokap ini mau dibuang ke mana lagi ya? Baju baru? BB baru? Sepatu baru? Tas baru? Pick one… pick one!! Sesampai di rumah, mereka kebingungan, duuh… ngapain lagi ya? Bête berat bengong sendirian di rumah, ah… buka facebook aja, siapa tau ada news feed yang menarik. Sungguh… kemubaziran energi besar-besaran. Sedangkan di usia yang masih begitu produktif, di saat kehidupan belum begitu menggerogoti akal sehat mereka, seharusnya ada banyak hal positif yang dapat mereka lakukan atau bahkan hasilkan. Queenita mencontohkannya di film ini. She define how to be a modern, fashionable, and hip teenagers but yet smart, critical, and care for the environment.

Jujur memang banyak kekurangan di film ini; blooper di mana-mana, adegan pembaca berita yang backgroundnya bikin saya ilfil berat, iklan yang tiba-tiba nyempil di sesi curhat Queenita dan kedua sahabatnya, sumpah!! Itu ngeganggu banget. Tapi… ini bukan film Hollywood, sutradaranya aja baru sekali ini ngegarap film panjang. So.. saya memang nggak berharap akan menonton film dengan cut sempurna atau bahkan akting para aktor dan aktris yang sempurna, yang saya cari memang murni pesan di dalamnya, dan saya mendapatkannya.

For any further info about what you might don’t like about the movie, just see another review. Ehehehehe…. Teman-teman saya yang lain sudah menjabarkannya dengan sukses di review milik mereka. Kalo saya jabarin di sini lagi, berasa mubazirrr deeeehhhhh.. ;p
See the movie your self deh mendingan, dan kasih tau saya, apa yang kamu dapat dari sana. Ingat!!! Jangan berharap melihat film dengan cut sempurna…. Serapi pesan di dalamnya, dan korelasikan dengan diri kamu selama ini.

Happy watching friends hohohoho… (^o^)v

-bee-
080609

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s