Emak Ingin Naik Haji

Baiklah, akhirnya PLN men switch ON listrik kantor saya, so.. mari me-review .

Well, here goes another movie I watched before the release day. Bermula saat Azzura Dayana teman saya nggak masuk kantor di suatu hari, saya pikir dia sakit or something.Then tiba-tiba siangnya dia muncul dan langsung bercerita tentang film ini. I was like… OKEH KOK LOE NONTON SCREENING NGGAK NGAJAK-NGAJAK GUE?? HUH!!  Tapi saat itu saya pikir, ya sudahlah I can still watch it whenever I want though.

Lalu disusul dengan munculnya review film ini di inbox multiply saya. Mbak Imazahra dan Yana dalam waktu yang hampir bersamaan menuliskan review di blog mereka masing-masing. Kalau mbak Ima menuliskannya dengan gaya propaganda dan membuat siapapun yang membaca jadi ingin nonton, Yana menuliskannya (seperti biasa) dengan gaya penulisan yang amat sangat menyentuh dan membuat saya ehem… sedikit hampir menitikkan air mata.

So… masuklah Emak Ingin Naik Haji ke dalam daftar a must see movie list saya. Beruntung hari jum’at kemarin saya dapat izin dari publisist film ini untuk nonton.

Diadaptasi dari cerpen apik karya Asma Nadia, film ini menyajikan sebuah keindahan rasa cinta sederhana seorang hamba terhadap Tuhannya. Memberi dan menghadapkan hati tak pada apapun, tapi rumah suci Nya.

Emak Ingin Naik Haji


Pemain: Reza Rahardian, Ati Kanser, Didi Petet, Cut Meymey, dl.
Sutradara: Aditya Gumay
Penulis Skenario: Adenin Adlan

Sepeninggal suami dan anak pertamanya yang meninggal karena tenggelam di laut, Emak (Ati Kanser) kini hanya tinggal bersama anak keduanya, Zhein (Reza Rahardian) yang telah bercerai dari isteri yang meninggalkannya untuk laki-laki penyandang gelar pegawai negeri tapi tetap saja, MISKIN.

Suatu pagi, Siti (jujur setiap dengar nama ini disebut saya agak-agak gimana gitu rasanya –“) pembantu dari rumah sebelah, datang ke rumah kecil mereka untuk memesan kue apem. Katanya untuk acara syukuran, karena majikan dan anak-anaknya mau pergi umroh (lagi) untuk yang ke lima kalinya. Emak tertegun sendiri mendengar hal itu, sepeninggal Siti, ia dan Zhein mulai membahas tentang biaya haji yang selalu naik dari tahun ke tahun. Saat itu, biaya haji sudah mencapai angka 3000 US$. Seperhitungan emak, dengan jumlah tabungan yang baru terkumpul lima juta dalam lima tahun terakhir, ia baru akan bisa pergi haji di usia delapan puluh sekian. Sungguh miris.

Lalu scene berlanjut ke rumah gedong tetangga Emak. Seorang gadis kecil terlihat asyik bertelfon dengan temannya, menceritakan betapa senangnya dia karena saat umroh nanti akan satu rombongan bersama Dude Herlino (oh, puhlaise!! Kenapa musti dia sih??). Sang kakak yang sepertinya tipe-tipe anak rohis sok tahu ngomel-ngomel sendiri melihat kelakuan adiknya itu. Walhasil, si adik Cuma melengos pergi sambil mencibir ke arah si kakak. Lalu pesan yang ingin disampaikan si kakak menguap entah ke mana.

Lalu, beralih ke scene selanjutnya. Seorang sekretaris pejabat (Cut Meymey) sedang melobi petugas travel haji untuk mendaftarkan nama boss nya sebagai calon jemaah haji saat itu. Segala macam cara ia lakukan, seolah si boss sudah tak bisa lagi menahan keinginannya untuk berhaji. Tak lama setelahnya barulah kita tahu alasan sebenar si sekretaris ini berusaha sedemikian kerasnya untuk meng-haji-kan atasannya itu.

IRONIS! satu kata itu seolah berseliweran di sepanjang film ini. Bagaimana sebuah ketulusan hati harus bersaing dengan segala bentuk niat-niat hitam manusia. Bagaimana si tulus harus begitu pontang panting berjuang demi mimpinya dan harus berkali-kali melihat yang lainnya berseliweran mendahului dirinya. Tapi nggak usah khawatir, film ini punya happy ending kok. Karena seperti yang Andrea Hirata bilang, Tuhan tahu dan Tuhan menunggu. So… emak yang super duper sabar itu mendapatkan kebaikan juga kok di akhir cerita hehe..

Yang saya suka dari film ini adalah pesan yang berusaha disampaikan, juga akting para artisnya. Terutama Reza Rahardian, aktor ini benar-benar tereksplore kemampuan aktingnya di film ini. Kalau di Perempuan Berkalung Sorban dia sukses membuat saya ingin mencekek lehernya sampai mati, di sini dia malah sukses membuat saya sesak sendiri dengan ekspresi-ekspresi tertekan oleh rasa kecewa pada dirinya sendiri karena merasa nggak bisa membahagiakan emak nya sendiri. TOP!!! Empat jempol deh buat dia.

Hmm.. yang saya nggak suka. Humm… sebenarnya lumayan banyak sih, tapi masih bisa dimaafkanlah dengan fakta di paragraf sebelum ini. Jadi, daripada kamu menonton film serigala, perjaka, perawan, perkutut, apalah itu yang katanya TERAKHIR, jauuuhhhh lebih baik kamu save uang kamu sampai besok, dan enjoy this movie.

Selamat menonton

-bee-

111109

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s