Cin(T)a

This is it!!!

Kalimat ini membuat sesak yang saya rasakan sepanjang film semakin membuncah. Seperti menonton film sadis dengan karakter pembunuh berdarah dingin, saya terus menahan sesak. Jika darah dan sayatan-sayatan dapat berhasil membuat saya mengernyitkan dahi saya, maka konflik bathin yang ditawarkan film inilah yang memberikan saya sensasi yang sama. Jika saya masih bisa membunuh karakter pembunuh berdarah dingin dari film sadis tersebut di dalam mimpi saya, maka konflik bathin dari film ini terus berada di sana, baik ketika saya tidur, atau sedang terjaga sekalipun.

Entah karena pernah mengalami hal yang sama atau karena memang film ini begitu lugas menuturkan konfliknya, saya merasa terhisap ke dalam sebuah pergolakan emosi, yang sering disalah artikan orang dengan istilah CINTA.

Cin(T)a
Starring: Saira Jihan/Sunny Soon
Screenplay By: Sally Anom Sari/Sammaria
Directed By: Sammaria Simanjuntak
Produced By: Sembilan Matahari Film – Moonbeam Creations

Adalah Annisa (Saira Jihan), seorang mahasiswi arsitektur senior yang kebetulan juga pernah menjadi pemain film dan tak dapat melepaskan predikat artis dari dirinya. Kecantikan yang diberikan Tuhan kepadanya membuat orang lain menilainya dalam batasan tertentu. Seperti yang diyakini Cina adalah hukum newton satu, yaitu kecantikan fisik berbanding terbalik dengan kemampuan intelektual, begitupun persepsi semua orang terhadapnya. Annisa adalah gadis cantik dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata, alias bodoh. Yang mereka tak tahu, di dalam diamnya Annisa menyimpan banyak teori dan filosofi tentang hidup yang kemudian selanjutnya akan banyak ia bagi dengan Cina.

Adalah Cina (Sunny Soon), mahasiswa baru di fakultas tersebut yang sudah sejak awal melihat Annisa dengan sebelah mata. Akibat kecerobohannya, ia menghancurkan maket tugas Annisa. Dari yang pada awalnya hanya ingin menebus kesalahannya tersebut, sampai akhirnya ia terlibat semakin jauh membantu Annisa membuat maket untuk tugas akhirnya. Kebersamaan, percakapan dan beberapa debat kecil tentang filosofi kehidupan dan keTuhanan, membuat mereka merasakan perasaan berbeda satu sama lain. Kata orang, mereka jatuh cinta.

Adalah (T). Sebuah sosok kabur yang membangun jarak paling tegas antara Annisa dan Cina. Sumber konflik paling utama yang menyebabkan banyak pergolakan bathin antara menerima saja rasa yang tumbuh dalam hati mereka masing-masing atau menuruti rasa cinta mereka yang sama-sama besar terhadap sosok (T) tersebut. Melupakan apa yang ada dalam hati mereka terhadap satu sama lain, karena mereka menyebut (T) dengan lafal yang berbeda.

Film ini berani mengungkapkan apa yang selama ini terbungkam. Itulah salah satu alasan terbesar saya untuk begitu tegasnya memasukkan judul film ini ke dalam agenda wajib tonton bulan Agustus kemarin. Teringat sebuah fase dalam kehidupan saya di tahun 2003 lalu, di mana Tuhan memberi saya cobaan dan konflik yang sama seperti Cina dan Annisa. Di saat itu, kami terbungkam, pun berbagi dengan sahabat saja rasanya tabu. Saya memilih untuk menjalani saja alurnya dan mengais-ais jawaban akan akhir yang harus saya tuju. Sampai akhirnya Tuhan yang memberi kami jawabannya, walau bagaimanapun, kami ternyata memang lebih mencintai Tuhan dibanding diri kami masing-masing. Semua cobaan yang Dia berikan dalam hidup saya, semata hanya ingin menunjukkan bahwa apa yang sudah digariskanNya dalam hidup saya adalah benar. Sehebat apapun saya harus merasakan sakit atas sayatan-sayatan dalam hati saya, sederas apapun darah yang mengucur dalam penghambaan ini, pada akhirnya satu kalimat yang Tuhan janjikan kepada saya. Bahwa saya akan baik-baik saja.

Maka, sebegitu banyak kata dan kalimat yang disajikan film ini untuk mempertanyakan takdir Tuhan atas kasus seperti ini, hanya satu yang dapat saya tarik kesimpulannya. Bahwa ini!! This is It… pada akhirnya kita harus kembali kepada rasa Cinta kita kepada sosok (T) kita masing-masing. Karena dengan begitu, kita akan baik-baik saja. Karena Tuhan tak akan pernah menyakiti hambaNya sendiri.

**************************
My Favorite Quote from the movie

Through your majesty, You create us differently
Through our arrogance, I question Your wisdom
In Your mystery, You create temptation
Through my inferiority, You make me more than I am
This is me

Bye, Cantik

Kalau menurut Tuhan kamu, aku masuk surga ngga?
(Damn!! ini pertanyaan pernah terungkap juga tuh secara tersirat di 2003 lalu)

Annisa: klo kamu suka cewe yang kek gimana?
Cina: cewe aku harus lebih cinta ke Tuhanku daripada aku

Kalo aku berani ngekhianatin Tuhan aku, apalagi ngekhianatin kamu

**************************

-bee-
010909

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s