Buddha Collapsed Out Of Shame

Kesan pertama yang saya keluarkan saat credits title muncul di akhir film adalah… Allrite, secara fisik saya terbengong-bengong, mata saya melotot, mulut menganga, dan jantung masih berdebar-debar. Sedangkan secara lisan saya cuma bisa bilang “Oh my God, that was ironic”

Syok, yah mungkin itulah kata yang sepadan dengan apa yang saya rasakan saat itu. Jujur saat saya tahu kalau festival ini bertajuk Kidfest, maka film yang saya harapkan akan saya tonton adalah semacam Petualangan Sherina, The Sound of Music, Anna, atau bahkan Cibi Maruko Chan atau kartun Spongebob. Tapi ini??? Bagi saya, perlu bimbingan serius dari orang tua jika memang film ini diputar untuk konsumsi anak-anak. Even umur 12 tahun ke atas juga. Saya membayangkan kalau mantan murid saya di SMPIF Al Fikri dulu itu dusuguhkan film ini, pasti banyak hal bergumul di otak mereka, such as…

“Itu kok kejam banget ya, masa’ anak perempuan mau ditimpukin batu rame-rame gitu??”

Atau

“Wuidih, seru juga ya kalo main perang-perangannya dipakein adegan sandera-sanderaan kayak begitu”

Atau yang lebih radikal lagi

“Besok mau juga ah ngejailin temen perempuan kayak mereka ahahahahaha…”


Jujur, saya stress waktu liat adegan Bhaktay mau dirajam sama anak-anak Thaliban itu. Saya larut dengan praduga kalau mereka akan benar-benar menghujani anak perempuan berusia enam tahun itu dengan batu.

Okeh… cukup lah ya basa basi nya… mari kita langsung menuju ke pokok perfilman nya..

Buddha Collapsed Out Of Shame

(Kidfest 2009)


Director

Hana Makhmalbaf

Writer

Marzieh Makhmalbaf

Cast

Abbas Alijome, Abdolali Hoseinali, Nikbakht Naruz

Film dibuka dengan sebuah ledakan besar di sebuah patung Buddha yang teronggok gagah di sebuah bukit di Afghanistan. Selanjutnya adegan berlanjut masih di bukit tersebut pra pem bom an itu terjadi. Seorang ibu sedang tergopoh-gopoh mendaki bukit tersebut demi mencapai gua kecil yang biasa mereka sebut rumah.


Adalah Abbas dan Bhaktay, dua orang anak berusia 6 tahun yang hidup bertetangga. Abbas ini hobi sekali membaca buku di depan rumah Bhaktay hanya untuk memanas-manasi tetangganya itu untuk bersekolah. Bhaktay yang awalnya nggak tertarik sama sekali karena Abbas hanya mengulang-ulang saja ejaan alfabet, akhirnya mulai tergoda saat Abbas berpura-pura membaca buku sekolahnya dengan lelucon yang sebenarnya memang sudah dihafalnya.


“Abbas, bawa aku ke sekolah bersamamu” begitu kata Bhaktay setelah terpana sebentar mendengar lelucon yang diceritakan Abbas.
“Kamu harus punya buku dan pensil untuk sekolah” kata Abbas.
“Aku akan meminta pada ibu, kamu jangan berangkat dulu, saya beli buku dulu” kata Bhaktay.


Gadis kecil itu nggak bisa menemukan ibunya di manapun. Tak mau menyerah dengan keadaan itu, mulailah perjalanan Bhaktay dari rumah-toko kelontong-pasar-rumah-lalu toko kelontong lagi-lalu rumah lagi hanya demi mendapatkan sebuah buku dan pensil. Denagn bermodalkan empat butir telur ayam yang diam-diam diambilnya dari bawah perut si induk ayam, Bhaktay pergi ke pasar untuk mendapatkan 20 rupee. Saya benar-benar terlarut dengan perjuangan Bhaktay pada scene ini. Nikbakht Naruz memang benar-benar ciamik memainkan perannya di sini. Dialog-dialog yang dia ucapkan, gerak gerik, sampai sorot matanya. Semuanya perfect. Rasanya saya benar-benar ingin berteriak di hidung Manohara saat itu juga  “GO TO HELL YOU BRAT!!!” okeh, mind my sarkasm tapi saya benar-benar muak sama cewek itu. Kemarin saya sempat beberapa menit menonton aktingnya di salah satu stasiun TV swasta, that was Horrible, beyond scare…

Back to the movie..

Berhasil mendapatkan sebuah buku, karena Cuma bisa menjual dua butir telur, setelah dua butir lainnya jatuh dan pecah karena tersenggol orang yang lewat. Bhaktay yang cerdas itu dengan pedenya mengajak Abbas untuk berangkat.


“Tapi kamu nggak punya pensil, kamu masih belum boleh bersekolah” protes Abbas.
“Aku akan menggunakan lipstick ibuku” jawab Bhaktay santai.
BRILLIANT!!!

Sesampainya di sekolah, Bhaktay harus sekali lagi menelan kekecewaan. Dia diusir oleh guru di sana karena sekolah itu ternyata khusus untuk laki-laki. Dia masih harus melintasi sungai untuk sampai ke sekolah untuk perempuan.

Di perjalanan menuju sekolah khusus perempuan ini, dia masih harus bertemu dengan segerombolan anak laki-laki Thaliban, yang sedang bermain perang-perangan. Oh boy!!! LOOK WHAT YOU HAVE DONE TO THE CILDHOOD DURING WARS, PEOPLE!!! Anak-anak itu, sorot mata mereka, tingkah laku, kata-kata yang mereka pilih, jalan berfikir mereka, mengerikan!!! Mereka lebih mirip seperti tentara yang sedang berlatih perang dibandingkan anak-anak yang sedang bermain perang-perangan. Saya nggak bisa menggambarkan lebih jauh tentang scene ini, karena memang adegan-adegan itu lebih untuk ditonton, bukan dibaca.

Endingnya?? Well saya sekali lagi lebih memilih untuk bungkam. Saya nggak hobi ah menulis-nulis spoiler. Saran saya, lebih baik tonton sendiri filmnya dan rasakan sensasinya. Hahahahaha… lebayyy…

Last but not least, saya mau share satu dialog yang saya suka di film ini, here goes:

“Mom!! Where are you?? I’m falling… come and pull me over!!!”

..Haha..
HAPPY WATCHING
-bee-
240709

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s