Yes Man

Today (eh.. yesterday ding, secarra ini udah jam satu pagi gitu lohh) [catatan. review ini ditulis tanggal 27 januari jam setengah satu paaggiiii ]… dengan otak yang sedang amburadul berkat sebuah kejadian yang memacu deras emosi saya paginya , saya berangkat juga dari rumah demi memenuhi janji saya untuk nonton bareng teman-teman di Plaza Semanggi. Seperti biasa, sebagai aktris handal (HUEK) saya berhasil menutupi keamburadulan saya itu dan menikmati saat-saat bersama dengan mereka. Niat awal untuk nonton film Doomsday jam 16.45 akhirnya berubah haluan menjadi: Nonton film Yes Man yang jam 19.00. Which is agak menyeramkan saat membayangkan saya harus pulang sendirian ke Depok jam Sembilan malam, naik Bis… (AHA… untung nggak ada BATMAN yang nyulik tuh ;p)

Film ini saya berikan empat bintang (hasil nyolong dari langit semalem pas naik angkot), atawa enam jempol (pinjem jempolnya ande sama bapak yang udah tidur terlelap) untuk keseluruhan kemasannya. Ya ide cerita ya penulisannya ya pemainnya, semuanya weh… meaningfull, releaving, dan menghibur AMAT SANGAT… so, enjoy the review ^^

Yes Man (The Review)
Cast : Jim Carrey, Zooey Deschanel, Bradley Cooper, Terence Stamp dll
Director : Peyton Reed
Script : Nicholas Stoller and Jarrad Paul

Film dibuka dengan wajah close up Carl Allen (Jim Carrey) saat sedang memandangi handphonenya yang sudah berdering berkali-kali, dan berkali-kali juga dia memencet tombol NO… Adegan pembuka ini menggambarkan kebiasaan Carl untuk menolak semua bentuk ajakan bersosialisasi dengan dunia luar, dari siapapun itu, bahkan sahabatnya sendiri. Adegan-adegan selanjutnya menggambarkan betapa carut-marutnya kehidupan Carl selama ini. Harus mendengar bahwa sahabatnya akan segera mengakhiri masa lajangnya di saat yang sama saat dia memergoki mantan isterinya sedang bemesraan dengan pacar barunya. Negative negative negative, hanya aura itu yang terpancar dari kehidupan Carl selama ini, bahkan sampai ia bertemu dengan teman lamanya yang tanpa tedeng aling aling melempar batu ke kaca Bank tempat Carl bekerja hanya karena satu alasan. Dia adalah seorang YES MAN…

Teman lama Carl ini memberinya brosur tentang sebuah seminar yang pernah diikutinya, bertajuk YES MAN. Sebuah gerakan di mana kata NO is forbidden, and take YES as the new NO. Awalnya, seperti biasanya Carl says NO to this opportunity, sampai suatu hari dia bermimpi ditemukan terbujur kaku di sofa rumahnya (kalian harus lihat adegan ini, mengocok perut abis2an, Jim Carrey emang paling bisa deh akting terbujur kaku kayak gini, sampe ada laler segala hinggap di bola matanya ;p). Merasa ngeri sendiri mimpinya itu akan jadi kenyataan, Carl memutuskan untuk datang ke seminar YES MAN tersebut. Hehe.. suasana di seminar ini mengingatkan saya pada training yang selama dua hari sebelumnya (berturut-turut) saya ikuti di menara 165. Hayooo… training apa hayo anak-anak??? Pada seminar YES MAN ini, Carl melakukan sebuah kesepakatan dengan trainernya langsung yang berbunyi :

“Mulai detik ini, saya tidak akan pernah mengatakan TIDAK pada setiap kesempatan yang datang kepada saya, atau saya akan mengalami hal-hal yang tidak saya inginkan”

Carl mengatakan setuju untuk kesepakatan itu, dan jadilah ia a new YES MAN. Sialnya, kata YES pertamanya jatuh pada seorang tuna wisma yang memintanya untuk diantarkan ke sebuah tempat, dan meminjam handphonenya untuk bertelefon ria dengan teman-temannya sepanjang perjalanan, sampai baterai hapenya habis. And then, kayak itu kurang sial aja, si tuna wisma juga meminta semua uangnya dan meninggalkan dia sendirian di bukit sepi. Berlanjut lagi, mobil Carl mogok kehabisan bahan bakar. OK mari kita recab… Mobil mogok + hape mati + uang ludes = sounds like a picture perfect of a total disluckyness khan… (apaan sih loe Siah??). Carl sempat mengumpat untuk semua kebodohannya itu, tapi… semua kesialan itu berubah bentuk menjadi lebih baik setelah dia bertemu dengan seseorang di pom bensin. Siapakah dia??? Well I guess it’s time for me to STOP, unless I’ll start making this review as a spoiler hehe ;p

Banyak pesan yang tersirat dalam film ini. Saya memilih untuk merefleksikannya ke dalam diri saya sendiri. Begitu banyak hal menyenangkan dan bernilai yang sudah saya lewatkan, hanya karena saya selalu mengatakan tidak. Terkadang, saya berfikir terlalu panjang untuk melakukan sesuatu. Takut begini, takut begitu, bagaimana kalau nanti begini, bagaimana kalau nanti begitu, yang pada akhirnya berakhir dengan PENYESALAN… Dan baru kemarin saya memberikan comment pada foto teman saya, yang menggambarkan betapa menyesalnya saya nggak ikut mereka naik Banana Boat saat berlibur ke Anyer. Salah satu teman saya menanggapi comment itu dengan: Asiaaaahhh… kamu memang selalu MENYESAL. Hoh.. that’s hurt. Film ini mengajarkan kita untuk berani mengambil resiko pada setiap kesempatan yang hadir di hadapan kita. Karena apapun itu, pasti pada akhirnya akan memberikan hikmah baik dalam kehidupan kita. Setelah saya renungi lagi, saya memang lebih banyak MENYESALI hal-hal yang TIDAK saya lakukan dibandingkan semua hal yang sudah saya lakukan, walaupun pada akhirnya membawa saya pada situasi tidak menyenangkan. Karena mungkin…. At least saya sudah pernah coba, dan jadi pelajaran ke depannya nanti.

So guys… siapa berani jadi THE NEXT YES MAN?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s