Ways To Live Forever

1. Namaku Sam

2. Umurku sebelas tahun

3. Aku suka mengumpulkan cerita dan fakta-fakta yang fantastis

4. Aku mengidap leukemia

5. Saat kalian membaca buku ini, mungkin aku sudah pergi

Sally Nicholls membuka Chapter pertama buku fiksi karangannya ini dengan daftar seperti di atas. Ia membuat seolah-olah memang benar Sam yang menulis buku hariannya selama mengidap penyakit kanker darah itu.

Saya banyak menonton FTV, atau film (khususnya film seri Asia) yang mendasari ceritanya dengan kehidupan seseorang pengidap leukemia. Tapi baru kali ini saya membaca buku, tepatnya novel yang mengangkat kisah ini (ketahuan deh kalo saya nggak baca banyak buku he..he..). Sebenarnya bukan karena saya nggak baca banyak buku juga sih, tapi buku dengan tema seperti ini seringkali kabur dari perhatian saya, mungkin karena udah kebanyakan nonton film serupa tadi kali ya?? Tapi kemarin, saya melihat buku ini tergeletak manis di meja kerja Lian. Saya tertarik dengan kemasannya (hehe.. saya memang termasuk orang yang ‘judge a book by it’s cover =P’). Baru dilirik begitu tiba-tiba aja si Lian nyerocos.

Lian : Bagus banget tuh Sah bukunya

Saya : Oh ya? (sambil baca-baca dikit)

Lian : iya, cocok banget sama loe

(melihat kalimat : Aku mengidap Leukemia)

Saya : Maksut loe cocok? Mentang-mentang sama-sama orang sakit ya?? Loe ngeledek gue Yan???

Lian : Hehehehe… (sumpah, saya nggak ngerti apa maksud cengengesan dia ini)

Saya : Nyengir aja loe! Loe lagi baca ya?

Lian : Udah kelar gue sih

Saya : Oh, ya udah gue pinjem ya. Kayaknya gue besok nggak masuk lagi deh. Mau baca buat temen tepar hehe

Lian : Ih, nggak masuk sih diniatin.

Saya : Biarin!!

Akhirnya kemarin seharian saya melahap buku itu. Beneran terhisap ke dalamnya. Selama membaca saya bertanya-tanya sendiri, sebenarnya buku ini fiksi nggak sih? Penulisnya bisa banget mengemas semuanya seolah dia adalah Sam, dan buku itu adalah jurnalnya.

Pada awalnya, Sam menulis jurnal tersebut sebagai tugas sekolahnya. Guru privatenya, Mrs. Wilis, mengusulkan padanya dan Felix, sahabatnya (yang sama-sama pengidap kanker) untuk menulis buku tentang diri mereka sendiri. Saat itu Felix sibuk mengeluh dan mengatakan kalau semua itu tak akan ada gunanya, sedangkan Sam malah sudah menulis berlembar-lembar. Buku Sam berlanjut sampai dia menuliskan daftar 10 hal yang ingin dilakukannya. Melihat itu, Felix berusaha untuk membuat semua itu terkabulkan. Ia, dengan caranya yang unik (semi-semi nyebelin) membantu Sam untuk membuat daftar itu menjadi kenyataan. Sayangnya, sebelum seluruh keinginan terlaksana, Felix pergi mendahului Sam. Lalu, siapa yang kelak membantu Sam mewujudkan keinginannya tersebut??? BACA AJA NDIRI BUKUNYAAA…. Hehe..

Saya tadi minjem jempol seluruh personil LPPH untuk diacungi ke buku ini (jadi totalnya kira-kira 24 jempol tangan hehe..). Saya suka banget cara Sally memaparkan kisah Sam. Di buku ini kamu bisa melihat betapa sebuah kekurangan bisa menjadi kelebihan dengan caranya sendiri, bahwa semua yang diciptakan Tuhan dengan tangannya pasti akan meraih kebahagiaan pada akhirnya. Tuhan memberi kehidupan yang begitu singkat untuk Sam, Felix dan mereka lainnya, untuk kemudian menjadi permata bagi orang-orang di sekelilingnya. Baca deh bukunya, kamu nggak bakalan nangis sesegukan, apalagi merasa nyesek berkepanjangan. Yang ada kamu akan terus tersenyum dan kadang bahkan tertawa-tawa sendiri…

Happy reading =)

p.s thanks to Lian Kagura yang dah minjemin bukunya… (Beneran, bagus banget)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s