Perempuan Berkalung Sorban

Anda kenal Luckty Giyan Sukarno? Tidak? Ya? Oh… kamu tidak?? Well, klik saja http://luckty.multiply.com kalau berminat untuk berteman dengannya, add saja dia (tapi saya nggak jamin dia bakal confirm lho, itu khan hak dia donk ah untuk confirm atau decline hehe ^^).

OK… ada apa dengan si Luckty ini?? Well, dia adalah seorang teman saya di multiply (dan facebook) yang selama beberapa minggu terakhir begitu gencarnya menyinggung-nyinggung sebuah film baru besutan Hanung Bramantyo setelah The phenomenon Ayat-Ayat Cinta. Yup, dari Luckty inilah saya tahu tentang film Perempuan Berkalung Sorban. Awalnya saya nggak terlalu berminat untuk nonton film ini, saya pikir pasti mirip-mirip sama AAC dengan Fahriholic nya dan fenomena poligami en despreh en debleh nya. Haaah… cape deh…

Tapi, suatu hari saat sedang makan di sebuah rumah makan, saya melihat video klip Siti Nurhaliza yang tak bukan merupakan soundtrack dari film ini. Selayaknya sebuah soundtrack, pada video klip ini disajikan beberapa gambar yang diambil dari filmnya. Adegan Revalina S Temat yang sedang menunggang kuda di pinggir pantai menarik perhatian saya cukup besar saat itu. Oh… ini film tentang apa ya?? Pahlawan wanita gituh? Wuidih.. keren juga tuh si Revalina naik kuda begitu, nonton ahh… begitu pikir saya saat itu. Lalu, mulailah saya sounding ke teman-teman saya untuk nonton bareng film ini. That was my first request untuk nonton bareng mereka, dan sepertinya GAGAL TOTAL, saya jadi sebal hehe ;p (ahh.. kalo inget weekend itu, saya jadi nyesek sendiri, another penyesalan dalam hidup saya belakangan ini). Walhasil, akhirnya saya nonton sendiri deh hari Jum’at yang lalu. Yup sendiri, HIKS… sendiri (OK, cukup Asiah!!!). Again, lagi-lagi… Enjoy….

Perempuan Berkalung Sorban (The Review)
Cast : Revalina S Temat, Oka Antara, Reza Rahadian, Widyawati, dll
Director : Hanung Bramantyo
Script writer : Ginatri S Noer & Hanung Bramantyo

Saya sempat melewati hampir sepuluh menit durasi dari film ini, karena saat itu saya lapar dan keasyikan menggerogoti ayam goreng saya hehe ;p walhasil, saya baru masuk theatre 4 Detos 21 saat Annisa kecil memenangkan pemilihan ketua kelas di sekolahnya, mengalahkan teman laki-lakinya hanya dengan selisih satu suara. Annisa kecil sudah begitu riangnya saat sang guru menyuruhnya untuk kembali ke tempat duduknya semula. Begitu hancur hatinya saat tak lama kemudian, sang guru mengatakan bahwa walaupun Nisa mengumpulkan labih banyak suara pada pemilihan tersebut ia tetap nggak bisa jadi ketua kelas hanya karena dia adalah seorang PEREMPUAN. Teman laki-laki Nisa bersorak bahagia atas kemenangannya, sedangkan Nisa terlalu kecewa untuk terus berada di dalam kelas, Nisa pun kabur pulang ke rumahnya.

Di rumah, Pak Lik nya yang hanya terpaut beberapa tahun dengannya sedang berada di sana. Dia juga menjadi saksi mata perlakuan bapak Annisa yang seorang kiyai terhadap anak gadis satu-satunya itu saat mendengar protesnya atas ketidak adilan si guru pada pemilihan ketua kelas tersebut. Setelah menerima hukuman diguyur air (typically hukuman pesantren banget dehh… kalo nggak diguyur air, ya dibotakin sampe plontos), Annisa dan Pak Lik nya ini berjalan-jalan ke tepi pantai yang masih di dalam kawasan pesantren. Sekali lagi Annisa harus kecewa dengan kenyataan bahwa Pak Lik yang sangat disayanginya itu harus meninggalkan dia untuk melanjutkan study ke Kairo (alah maaakkk lagi-lagi Mesir??).

Beranjak dewasa, Annisa (Revalina S Temat) tumbuh menjadi wanita yang memiliki pemikiran yang lain dari teman-teman sebayanya. Banyak hal yang disampaikan para guru di pesantrennya itu yang bertentangan dengan pendapatnya. Pada adegan ini, digambarkan sekali bagaimana pesantren memborbardir pemikiran para santrinya akan kewajiban, kewajiban, dan sejibun kewajiban perempuan terhadap laki-laki, isteri terhadap suaminya. YA… kewajiban, kewajiban, dan sejibun kewajiban yang membawa pertanyaan besar di benak Annisa, KE MANA PERGINYA HAK PEREMPUAN KALAU BEGITU?? Salah satu contoh yang sempat diangkat cukup vokal adalah tentang kewajiban isteri untuk melayani suami.

“Kalau suami meminta isteri untuk melayani syahwatnya (O’ow… did I sounds too harsh right now?? Oh, whateva..) maka dalam kondisi seletih apapun, isteri wajib melayani suaminya tersebut ”

Lalu Annisa mengangkat tangannya dan bertanya…

“Bagaimana kalau keadaannya adalah si isteri yang meminta suaminya untuk melakukan hal tersebut? Apakah si suami wajib untuk melayaninya, dalam kondisi seletih apapun dia?”

Sssiiiinnggg…. Suasana kelas mendadak senyap, beberapa santriwati membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang didengarnya. Kamu mau tahu jawaban si ustadz yang membuat saya pengen nimpukin dia juga??

“hahaha… kamu ada-ada aja Annisa, mana ada perempuan yang meminta suaminya untuk melakukan hal tersebut, kalaupun ada, itu namanya perempuan gatel”

Argh… MENYEBALKAN!!!

Inilah salah satu adegan yang sebenarnya menggambarkan pertanyaan paling krusial yang diangkat film ini: Mengapa Islam terlihat begitu tidak adil terhadap perempuan? Apa Islam adalah agama yang diperuntukkan bagi laki-laki saja? Di mana perempuan hanya berfungsi sebagai pemuas nafsu belaka??

Well, Hanung dan Ginatri berhasil menyiratkan jawabannya pada film ini. Instead of secara gamblang menyajikan adegan orasi atau dengan kata lain khutbah dari seorang ustadz, mereka menyajikannya dengan dinamika kehidupan pesantren di Yogya dan pemberontakan Annisa yang pada akhirnya dapat mengubah cara pandang pesantren tersebut terhadap kehidupan modern. Saya melihat Annisa seperti pahlawan wanita yang memperjuangkan kepentingan sesamanya. Dengan membagikan buku-buku bacaan kepada santriwati di sana secara diam-diam, Annisa berharap pikiran para santriwati tersebut bisa lebih terbuka dan nantinya saat harus keluar dari sana dan berhadapan langsung dengan dunia luar, mereka nggak terkaget-kaget dan menimbulkan sebuah euphoria berlebihan yang tidak diinginkan.

Sejujurnya, saat menonton film ini, saya seperti ditarik mundur melalui warmhole ke masa sekolah saya. Saya ingat pernah mengadakan seminar tentang music yang tujuannya untuk membuka pikiran guru-guru di sekolah kalau bermusik nggak akan merusak masa depan kami. Namanya anak muda, ngeband, dengerin music, nonton konser, itu biasa khan?? Well guru saya melarangnya seolah-olah kegiatan itu sama dengan memakai obat-obatan terlarang. Lalu, setelah lulus SMU dan bertemu dengan dunia perkuliahan, saya sering mendapat berita tentang beberapa teman dan adik kelas yang pada akhirnya terlarut pada kehidupan hedonis dan bahkan sex bebas. Menonton film ini seperti pengalaman Déjà vu bagi saya.

Dan oh iya, saya juga menganjurkan para pasangan suami isteri untuk menonton film ini bersama-sama. Ada gambaran hubungan suami isteri yang sangat indah disajikan di sini. Membuat saya sesak karena iri, dan takut tak dapat merasakannya dalam kehidupan nyata saya (Ya Allah, engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hamba yakin itu…).

Ucapan terimakasih dan apresiasi tertinggi saya untuk Ginatri S Noer dan Hanung Bramantyo atas keberaniannya menyajikan fenomena ini ke khalayak umum. Layar lebar putih di depan sana selalu sama saja bagi saya selama ini, tapi dengan gambar-gambar itu hinggap di mata dan fikiran saya Jum’at lalu, menjadikan sebuah pengalaman baru bagi saya. Tak pernah menyangka, spiritual dapat tersentuh lewat film bioskop.

^^Thank you and Thank you ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s