Fiksi – JIFFest 2008

Well, it’s Jiffest time..

Sampai H minus 1 saya nggak tahu siapa yang akan menemani saya nonton Jiffest, pasalnya belum ada yang menyatakan positif akan menonton film yang sama dengan yang akan saya tonton ini. Sejak pertama browsing dan melihat film fiksi di daftar film yang akan diputar, saya langsung menulis “menonton Fiksi” di jadwal weekend saya (beh… Gaya lu Sah hehe.. ;p). Mau ada yang nemenin atau nggak, pokoknya saya harus nonton. Padahal, saya nggak tau di mana itu FX, huehuehue..

Allrite, walaupun alarm hape saya sudah bernyanyi-nyanyi untuk membangunkan saya, tetep aja saya kesiangan. Walhasil hari itu saya ketinggalan 20 menit pertama film ini. Tapi, kata teman saya awal dari film ini emang ngebosenin, jadi nggak penting juga sih, naaahh yang pas bagian saya tonton itulah filmnya mulai seru.

Ladya Cheryl berperan sebagai Alisha yang have a crush on Bari (Doni something), seorang penulis angot-angotan yang hidup bareng (si Bari menyebutnya sum 11, karena dia nggak suka sama sebutan kumpul kebo) pasangannya yang bernama Renta (Kinaryosih). Alisha sendiri adalah anak orang kaya yang ditinggal mati ibunya, dan ditinggal kerja ayahnya. Yaahh… Typicaly cerita2 tentang anak orang kaya nggak bahagia pada umumnya lah.
Alisha yang sempat membuntuti Bari sampai rumah susunnya melihat kamar di sebelah kamar Bari dan Renta kosong. Ia langsung memutuskan untuk pindah ke sana. Alisha mengubah namanya menjadi Mia dan dengan mudahnya menjadi dekat dengan Bari dan Renta.

Suatu kali, Bari mengajak Mia tur gratis menyusuri semua lantai rumah susun itu. Diawali dengan deskripsi penghuni per lantai, sampai akhirnya Bari menceritakan tentang kehidupan tiga orang penghuni yang menjadi inspirasi Tulisan yang sedang digarapnya. Ia juga menjelaskan tentang alasannya belum menuliskan ending dari ceritanya itu. Bari ingin menuliskannya sesuai dengan realita, sedangkan fiksi sangat berbeda dengan realita. Dalam fiksi, cerita memiliki akhir, sedangkan dalam realita, life goes on. Dari semua penjelasan inilah, Mia mulai berusaha memasuki kehidupan tiga penghuni tadi untuk membantu Bari ‘menyelesaikan’ tulisannya.

Nggak banyak dialog dituturkan di film ini, karena salah satu sutradaranya percaya bahwa satu gambar bisa bicara lebih banyak. Saya pribadi mengacungi dua jempol saya untuk kemasan cerita, sinematografi, dan soundtrack yang saling melengkapi satu sama lain. Dengan paduan yang pas itu, film ini berhasil memberikan dark feeling terhadap penontonnya, well setidaknya kepada saya. Saya pernah nonton film berjudul Wicker Park, nggak tahu kenapa tapi saya menangkap feel yang sama saat menonton kedua film ini. Padahal ceritanya jauh berbeda.

Well, ada kelebihan, ada kekurangan juga donk. Menurut saya film ini punya plot yang terlalu banyak, jadi setiap plot terkesan nggak selesai diceritakan. Dan ending yang disajikan gampang tertebak banget, kurang greget lah pokoke.

Over all… Ada tujuh bintang buat film ini, dan tiga bintang di antaranya saya kasih buat aktingnya si Ladya Cheryl, kangen juga sama aktingnya dia. Satu bintang saya kasih buat si Doni something itu, yang waktu masih kuliah dulu suka saya liat berkeliaran di kansas. Tiga bintang lagi, buat kedua sutradara, zeke, dan semua yang berada di belakang pembuatan film ini..

Goodjob ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s