Fireflies In The Garden

Saya nggak ngerti apa yang menyebabkan sineas di film ini ngasih judul Fireflies in The Garden untuk filmnya. Biasanya, kalo judul film udah kayak gini, pasti ada filosofi di baliknya. Atau, seenggaknya, terselip pesan moril dari dalam film (berdasarkan adegan yang ada fireflies tentunya). Tapi jujur, sejak saya keluar dari studio 5 21 PIM sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apa sih maksudnya film ini dikasih judul begitu? Apa itu Cuma sebagai madu buat lebah-lebah aja??? Cuma sebagai penarik perhatian aja? Hh… Cuma Tuhan dan sineas film itu aja yang tahu.

Sedikit review Fireflies in The Garden

Fireflies In The Garden

Director : Dennis Lee
Writer : Robert Frost (poem)
Dennis Lee (writer)
Cast : Julia Roberts, Ryan Reynolds, Willem Dafoe. Carrie-Anne Moss, Hayden Panettiere, dll

Basicaly, film ini bercerita tentang sebuah keluarga di mana si ayah amat sangat egois dan MENYEBALKAN!!! Bukti betapa menyebalkannya si ayah ini bahkan sudah dipaparkan sejak awal cerita di mana dia bisa sangat marah dan bicara hal-hal yang menusuk hati Cuma karena melihat anaknya menempelkan telapak tangannya ke jendela mobil yang berembun karena hujan. Dari awal cerita itu pula kita bisa melihat kalau si istri dan di anak cukup terganggu dengan sifat orang nomor satu di keluarga tersebut.

Lalu film berlanjut ke masa grown up nya si anak. Bagaimana dia masih melihat kejadian di masa kecil yang penuh penyiksaan batin dari si ayah kembali muncul menjadi bunga tidurnya. Anak yang bernama Michael ini tumbuh menjadi sebuah novelis yang lumayan terkenal. Walaupun menurunkan bakat ayahnya, Michael tidak pernah ingin dipanggil sebagai Mr. Taylor, karena nama itu adalah nama ayahnya. Yup, Michael tumbuh menjadi anak yang membenci ayahnya.

Adegan paling tragis, memilukan, dan menjadi trigger dari semua konflik adalah saat sebuah kecelakaan merenggut nyawa si ibu. Kecelakaan itu ‘tentunya’ disebabkan oleh kelakuan si ayah. Kematian si ibu membuat keluarga itu kembali berkumpul. Dan berinteraksi dalam waktu lebih lama. Di saat itulah semua orang mengungkapkan rahasia-rahasia yang selama ini mereka tutupi karena ingin menjaga perasaan satu sama lain.

Saya menemukan banyak sekali kesamaan cerita di film ini dengan kehidupan saya. Memiliki ayah yang selalu ingin menjadi paling benar, yang selalu terlihat begitu lemah dengan memarahi semua orang saat dia mengalami kegagalan. Sepanjang menonton film ini saya merasakan sesuatu yang memilukan di hati saya. Seperti melihat kehidupan saya diputar di hadapan, dan saya tahu bagaimana rasanya menjadi Michael. Melihat bagaimana dia tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang terkesan cuek terhadap sekitar dan melakukan apapun yang dia mau, rebel dan terkadang sengaja melakukan kesalahan-kesalahan, saya jadi mengerti, mengapa sekarang saya tumbuh menjadi anak yang seperti ini. Saya iri dengan Michael yang bisa lebih berani menjadi dirinya sendiri. Kalau saya melakukan hal yang sama, mungkin ayah dan ibu saya sudah sejak dulu mengusir saya dari rumah. He..he..

Kalo mau nonton film ini mending beli DVD bajakannya aja, truss jangan nonton malem-malem pas abis ujan. Yang ada bukannya nyimak malah molor he..he..

Nb. Chied, filmnya emang nggak jelas, Echa aja ampe termolor-molor hak hak… tapi gue suka banget. Nggak nyesel lah… daripada nonton film paling buruk di Hollywood versi sampah award di sana khan? He..he.. kapan2 nonton bareng lagi yuukkk. Kabar-kabarin ya para Jeung semua… =)

-bee-

271008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s