C’est La Vie

Saya nemuin buku ini di kamar adek Saya, he..he.. sebagai kakak yang tidak baik, Saya tilep buku ini dan belom Saya balikin lagi sampe sekarang. Ho..ho..ho.. Pas dibaca review di belakang buku itu, Saya mulai tertarik untuk baca isinya.

C’est La Vie

Writer             : Fanny Hartanti

Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal               : 320 hal
Ceritanya tentang tiga orang perempuan bernama Ayu, Amara, dan Karina yang sama-sama punya pasangan orang Belanda dan tinggal di Belanda. Di bab-bab awal Fanny menggambarkan proses pertemuan mereka dengan pasangannya masing-masing, bener-bener unik dan realistis banget. Setelah itu Fanny juga menggambarkan pertemuan ketiganya, yang juga unik dan menggelikan.

Selanjutnya barulah cerita bergulir tentang kehidupan mereka setelah pertemuan itu. Bagaimana kehidupan Amara yang punya paras hampir sempurna, yang dulunya memiliki karier yang cemerlang di Indonesia, tapi malah jadi ‘pembantu’ chef di Belanda. Atau kehidupan Karina yang masih juga belum dilamar oleh pacarnya, padahal mereka sudah sekian lama tinggal bersama. Atau kehidupan ‘mimpi cinderella’ Ayu yang dulunya adalah penjaga toko dari keluarga miskin di Indonesia, tapi malah menjadi nyonya besar bersuamikan kaya raya di Belanda.

Konflik-konflik yang dibuat penulis terasa realistis dan deket banget sama kehidupan kita sehari-hari. Banyak banget pesan moral yang disampaikan secara tersirat di buku ini.

Lewat sikap-sikap Amara yang menganggap hanya orang kantoran yang pernah kuliah dan mendapati pendidikan tinggi lah yang memiliki martabat dan kehormatan, penulis mengajarkan kita untuk menghargai profesi semua orang, apapun bentuknya.

Lewat pribadi Karina yang nggak pernah merasa puas dengan yang dimilikinya dan selalu iri dengan Amara yang dianggapnya mudah mendapatkan semuanya karena parasnya yang sempurna, penulis menyisipkan pesan untuk melihat takdir yang kita dapatkan dari sudut pandang berbeda.

Dan lewat kehidupan Ayu yang mirip dongeng cinderella yang tiba-tiba saja berubah menjadi mimpi buruk, penulis menyiratkan pada kita bahwa nggak selamanya hidup itu indah. Dan kita diajak untuk bisa menghadapinya dengan tegar.

Membaca novel ini, seperti membaca kamus kehidupan. Cerita yang dipaparkan dewasa banget dan sangat berbobot, tapi nggak mengurangi keasyikan menikmatinya. Buku ini cocok banget buat mereka yang mulai memasuki fase usia 25 tahun ke atas. Fase di mana kehidupan bisa menjadi begitu berat untuk dijalankan, dan tuntutan dari berbagai pihak atas segala sesuatu -terutama jodoh- berhujanan setiap saat. Pokoknya baca aja deh… and you will understand what i mean ^^.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s