[30 Days Challenge] Live off of one food and drink for the rest of my life

Oh well, honestly the theme is boring i dont feel like writing it hahaha…

Karena nggak mungkin lah cuma makan satu jenis makanan selama sisa waktu hidup saya. Kalau satu jenis minuman sih mungkin saja. Saya akan pilih air putih. Bagaimana dengan kopi? duh gimana ya bisa hidup tanpa kopi? sehari dua hari sih oke, tapi selanjutnya? hidup akan terasa hampa nggak sih?

Kalau pertanyaannya adalah makanan apa yang kamu harap menjadi makanan terakhir mu? apa aja yang sehat-sehat deh. Bisa buah-buahan, atau makanan rumahan orang Korea atau Jepang. Honestly, saya tuh kepengin banget bisa makan makanan rumahan Korea dan Jepang setiap hari, lihat deh makanan rumahan mereka di dorama atau kdrama, balance semua gitu. Nggak cuma yang instant-instant atau yang santen dan berlemak-lemak semua.

Makanan rumahan orang Jepang

See? enak ya kayaknya perut kalau setiap hari makannya begini 😀

Kan, nggak bisa kan stick to the theme. Karena boring asli, coba deh apa sih jawaban yang benar dari pertanyaan: kalau kamu hanya bisa makan satu jenis makanan dan minuman seumur hidupmu, makanan dan minuman apakah itu? Jawabannya; MUSTAHIL, karena alasan dari kita bisa makan dan minum berbagai macam makanan dalam hidup ini adalah karena kita hidup di dunia yang sudah disediakan sedemikian rupa oleh ALLAH untuk bisa kita olah dan manfaatkan. Jadi hidup di dunia yang hanya memungkinkan kita makan satu jenis makanan dan minuman, itu dunia kayak apa?

Aduh, saya menyebalkan ya? iya nih, kenapa ya? >_<

[30 Days Challenge] Day 9: Pet Peeve

pet peevepet aversion, or pet hate is a minor annoyance that an individual finds particularly irritating to them, to a greater degree than would be expected based on the experience of others. The phrase analogizes that feeling of annoyance as a pet animal that one does not wish to give up, despite its objective lack of importance.

From Wikipedia

Sudah lama denger istilah ini, tapi selalu bingung sama maknanya. Karena mau menulis postingan ini, ku search dulu lah contoh-contohnya, lalu menemukan satu hal ini, Pet peeve saya. OMG this kind of person really got on my nerves.

Okay, my bigest pet peeve is an iresponsible guy a.k.a scumbag a.k.a asshole.

Semakin bertambah usia, perhatian kita terhadap sesuatu tuh akan semakin meruncing sebetulnya. We will care less on the matter that used to make us going crazy *cough* romance, but put more attention to things that we used to be ignorant of. For example, about raising a family.

Okay, boleh cerita dulu sedikit, ya.

Bestari and Mas J

Jadi beberapa minggu yang lalu, saya dan kakak-kakak kesayangan dari Bestari kumpul kembali setelah beeeertahun-tahun kami nggak ketemu, dan hanya kontak via WAG saja. Kami kumpul di rumah pelatih vokal kami, Mas J, yang dulu sempat sering kami datangi untuk latihan vokal, persiapan untuk membuat album.

Seperti yang biasa dilakukan kalau sedang reunian begini, kita pasti ngobrolin masa lalu. Sampailah kami pada topik tentang anak. Salah satu anak Mas J (yang sudah beranjak remaja) tiba-tiba lewat di dekat kami, lalu Mas J memperkenalkannya kepada kami. Terus terang, saya nggak punya memori apapun tentang anak ini. Padahal waktu persiapan membuat album itu, anak ini sudah lahir.

Tapi Mbak Y tiba-tiba saja berkomentar “Oh, ini si *nama anak Mas J* yang waktu itu bla bla bla itu ya?”. Okay, saya terdiam dan berusaha untuk mencari memori tentang bla bla bla yang sedang dibahas Mbak Y ini.

Nggak ada.

Saya nggak inget sama sekali. Lalu Mbak Y dan Mas J asyik nostalgia ke masa-masa anak ini baru lahir dulu, yang tentu saja NIHIL di memori saya. Lalu saya pun nyeletuk “aku, nggak punya memori apapun tentang yang lagi dibahas ini, lho” 😦

Sejujurnya saya bingung banget kenapa hal ini bisa terjadi.

Lalu setelah merenunginya matang-matang, saya menarik kesimpulan kalau memang dulu saya nggak menganggap hal-hal seperti keluarga, anak, rumah tangga, adalah hal yang penting. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA, sedangkan para kakak-kakak ini sudah berumah tangga dan bahkan punya anak. Dunia mereka berbeda sekali dengan dunia saya. Maka dari itu, banyak kejadian-kejadian yang luput dari ingatan saya, karena saat itu saya nggak merasa perlu merekamnya di memori saya.

Tapi sekarang, tentu saya adalah orang yang berbeda. Rumah tangga, anak, dan keluarga adalah hal paling penting dalam kehidupan saya. Hal-hal tersebut selalu merupakan topik utama dalam percakapan sehari-hari dengan teman-teman.

“Buibu, hari ini masak apa?”

“Eh, katanya si *anu* hamil lagi ya? anak ke berapa ya?”

“Aku kayaknya mau unschooling anak-anak deh, kayak kamu, ada referensi yang bisa aku baca-baca nggak?”

Well, things like that.

Yang dulu, mana ada sih jadi pusat perhatian saya. Dulu yang saya pikirin kan baru nilai pelajaran, sekolah, dan betapa membosankannya kehidupan remaja saya. LOL. Banyakan bengongnya daripada mikirnya. Tentu saja banyak hal yang hilang dari memori saya.

Begitupun tipe laki-laki, dulu yang saya tahu cuma yang ini ganteng yang itu nggak. Kenapa yang itu suka sama saya tapi yang lain (yang saya jatuh hati banget sampe klepek-klepek) boro-boro ngelirik. Nggak pernah saya duga, bahwa ada satu tipe laki-laki yang sekarang amat sangat saya benci. Yaitu laki-laki yang nggak bertanggung jawab. To the point that count as an asshole.

Belakangan saya banyak mendapati istri-istri curhat tentang suaminya yang suka hilang entah ke mana, boro-boro biayain kehidupan keluarga, lha pulang cuma buat “buang hasrat” trus ngilang lagi kayak kentut. ATAU yang sehari-hari ongkang-ongkang kaki di rumah, sedangkan istri banting tulang cari uang. Boro-boro bantuin beberes, lha anak kelaperan pun doi nggak peduli. Tipe-tipe yang merasa dirinya keturunan dewa, tak hanya menuntut dilayani, tapi patut disembah. Semua sabda adalah titah, tapi nggak sama sekali memberi anugerah. SUNGGUH MANUSIA SAMPAH.

Kalau semua yang di atas itu masih ditambah lagi sama hobi bentak sana bentak sini, tampol sana tampol sini. Wah rasanya pengin buang aja mereka itu ke liang lahat, hidup-hidup. Supaya nggak semakin banyak jadi hajat di dunia. Ngabis-ngabisin stok oksigen aja.

Okay, i need to breath. Hufff… >_<

Tentu yang patut disyukuri adalah, stok manusia sampah semacam itu di dunia ini nggak sebanyak yang sebaliknya, sih. Saya masih lebih banyak menyaksikan bapak-bapak kece yang sangat mencintai keluarganya. Tak hanya menyejahterakan anak dan istri, tapi juga mengayomi orang tua dan selalu ada di setiap momen sedih dan juga bahagia. Selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang dicintainya.

Dan TIDAK ya, itu semua TIDAK mudah. Nggak cukup hanya dengan ongkang-ongkang kaki saja. Jadi buat laki-laki di luar sana yang berpikir setelah menikah, kehidupannya akan menjadi seperti raja, dilayani permaisuri dan bergelimangan harta. Maaf kalau saya meruntuhkan angan angan kelamaan itu. Kecuali kalau kamu lahir dari keluarga bersendok emas, TIDAK, kamu tidak bisa santai-santai saja di rumah setiap hari my friend. Perempuan yang dulu kamu pinang itu berhak diayomi, berhak diberikan nafkah, berhak dilindungi. Mereka bukan pembantu, mereka bukan robot, atau bahkan mesin penghasil uang. Kalau mereka bisa cari uang di sela-sela kesibukan mendampingi kamu berumah tangga, itu adalah sebuah rezeki lebih untuknya. Tapi kamu, tetap harus kerja, provide them a good life. Because that is your responsibility.

Ya ALLAH jauhkanlah hamba, keluarga hamba, anak keturunan hamba dari orang-orang yang dzolim dan tidak bertanggung jawab. Lindungi kami dari orang-orang semacam itu, ya ALLAH.

Aamiiin yaa robbal ‘alamiiin

Nnote: yang berniat untuk protes; Tapi kan nggak cuma laki-laki yang kayak begitu. Ada juga kok perempuan yang kelakuannya kayak sampah. Well, save it! kita kan lagi bahasa pet peeve saya, kalau mau protes, do make your own post 😉

[30 Days Challenge] Day 8: Three Things You Want To Say To Three Different People

Wow yang begini-begini nih yang susah hahahaha…

Hmm, gini aja deh;

To 10 years old Asiah

Just drink those juice, it works wonder to yourself. Don’t listen to that mean aunty, you are beautiful. Iya kamu gemuk, tapi itu nggak mengurangi nilai kamu sebagai perempuan. Nggak usah dengerin omongan buruk dari orang lain. Don’t let it make you devalue your self. Because all that matter is how you feel about your self, and it should be good. You are beautiful.

To 17 years old Asiah

Umur segini, banyak-banyakin prestasi aja, lah. Jatuh cinta boleh, tapi nggak usah ngarepin apa-apa dari perasaan itu. That boy won’t even have a little glance on you no matter what. Mau lu diet kayak orang gila, mau lu bersolek sedemikian rupa, he wont even accept your chocolate on Vday. Don’t waste your time. No, you don’t have to proof your self to ANYBODY, because those who don’t care, won’t care. Ada kok, ada yang peduli sama kamu, ada kok yang bangga sama kamu. Karena believe me, you’ve got all those potentials, it’s such a waste to just spend your days day dreaming about the idea of romance. It will come to you eventually, and it will be such an interesting journey.

To 20 years old Asiah

Kan, ape gue kataa.. ada kan romansa di hidup lo. You will feel like a princess once, then a third wheel another day. Somebody will loooove you like there’s no tomorrow, and another will ghost you like shit. You will experience many types of relationship and everything counts on your future. Semua pengalaman itu akan membuat masa depan kamu lebih menyenangkan. Nggak apa-apa kok, emang banyak banget sedihnya. Tapi nanti, kamu akan mengenang itu semua dengan senyuman dan giggle giggle gitu sedikit.

Masalah karir, YANG SERIUS COY COY COY… KERJA YANG BENER, CARI DUIT YANG BENER BIAR KEBELI ITU MOBIL SAMA RUMAH. Sebelum lo nggak bisa mengejar itu semua lagi karena ada 2 little angels (and a big boy) yang bikin lo nggak pernah mau jauh-jauh dari mereka barang sehari aja. There’s no more room for career once you become a mother, because you just devoted to the role (dan itu nggak apa-apa banget, kamu akan bahagia banget kok ngejalaninnya).

2 little angels, a big boy, and ME 😀

[30 Days Challenges] Day 7: Do You Read? What Are Your Favorite Books?

Hmm.. i don’t really reads, i listens to audiobook.

Jadi, di awal tahun 2016 saya pernah mengambil sebuah keputusan impulsif dan pindah domisili ke Solo. Saat itu saya pikir kehidupan kami bisa berubah di sana. Lebih mandiri, tinggal di rumah sendiri dan punya privasi. Long story short, semua itu salah besar. Memutuskan pindah ke Solo merupakan keputusan impulsif yang masuk ke dalam kotak “kesalahan dalam hidup”. Maka, pada bulan Juni 2017, setelah melahirkan anak ke 2 saya di Solo, saya minta ande untuk memboyong saya dan anak-anak kembali ke Depok. Suami saya, karena masih ada kewajiban pekerjaan di Solo, tinggal dulu di sana selama beberapa bulan. Kalau nggak salah, bulan Agustus di tahun yang sama, kami resmi pindah kembali ke BSD. Nothing wrong with our marriage, everything is fine. Hanya rezeki kami memang bukan di Solo, itu saja.

Apa hubungannya dengan tema? Ada, kok 😀

Jadi waktu tinggal di Solo ini, saya berkenalan dengan sebuah aplikasi bernama Audible. Audible adalah layanan aplikasi audio book online dari Amerika milik perusahaan Amazon. Dengan aplikasi ini kita bisa membeli audiobook dan mendengarkannya secara streaming. Berbekal sebuah kode diskon dari Michelle Phan, saya lalu berlangganan, yang memungkinkan saya membeli 1 buku setiap bulannya secara gratis (well tidak gratis, sih, kan saya bayar biaya berlangganannya). Tapi lumayan sekali, dengan credits 1 buku per bulan (dan bisa diakumulasi dengan bulan selanjutnya, jika bulan ini nggak ada buku yang kamu mau), saya bisa membeli buku dengan harga berapapun. Best buy saya selama menggunakan audible adalah buku Sherlock Holmes: The Definitive Collection yang berisikan beberapa judul buku, dan dibacakan oleh Pak Stephen Fry, hanya dengan 1 credits langganan saja.

Saat pertama kali berlangganan, saya benar-benar nggak tahu sama sekali mau beli buku apa. Sepertinya buku pertama yang saya beli adalah Crazy Rich Asian dan benar-benar saya dengarkan setelah beberapa bulan berlangganan. Saat itulah saya kemudian menyadari bahwa saya memang lebih cocok mendengarkan daripada membaca buku. Saya adalah tipe orang yang bisa mendengarkan buku sambil melakukan hal-hal lainnya, seperti memasak, menyetrika, bebersih rumah, dan pekerjaan–pekerjaan ibu rumah tangga lainnya yang sedari dulu akrab sekali dengan keseharian saya.

Pengalaman bersama Audible menjadi semakin menyenangkan saat terbit seri audiobook Harry Potter. Saya berterimakasih sekali pada Pottermore yang menerbitkan serial tersebut di tahun itu. Terlambat satu tahun saja, saya mungkin nggak akan lagi mampu membelinya hahahaha.. karena setelah 1 tahun diizinkan berlangganan, akhirnya suami saya menyerah di tahun ke 2. Lumayan juga soalnya biaya berlangganannya per bulan. Alhamdulillah saya berhasil mengumpulkan seri Harry Potter sampai lengkap.

Sekarang semakin banyak pilihan audiobook yang bisa dipakai. Aplikasi menulis online tempat sahabat saya, Jia, bekerja: STORIAL.CO juga menyediakan opsi audiobook untuk beberapa bukunya. Saya sedang mendengarkan audibook Rapijali milik Teh Dee Lestari di sana.

Saya juga sempat menjadi proof listener di sebuah aplikasi audiobook STORYTEL (sebuah layanan audiobook dari Swedia) yang juga akan membuka layanan buku-buku berbahasa Indonesia. Lumayan sekali, bisa bekerja sekaligus mendengarkan lebih banyak buku-buku secara gratis hehehe..

Jadi kesimpulan untuk tema hari ini, YA saya membaca (mendengar) buku. Buku favorit saya sampai hari ini adalah seri Harry Potter (tentu saja) dan juga seri Shopaholic milik Sophie Kinsela, dan kedua seri tersebut saya punya seri lengkapnya di Audible hehehe.. SENANG!!

-Bee-