My Breastfeeding Drama (Part 2)

Okay, selagi Sabriyya masih tidur, mari kita lanjut.

Setelah 3 sesi pertemuan di St. Carolus saya akhirnya memutuskan untuk ikhtiar di rumah saja. Sabriyya tetap saya berikan susu tambahan, saya memberikan ia susu kambing murni sebagai tambahannya. Banyak orang bertanya mengapa saya malah memberikan susu kambing murni dan bukan susu formula untuk Sabriyya. Karena ande saya bilang susu kambing itu adalah susu yang paling ramah untuk manusia. Tingkat alerginya rendah dan kandungan nutrisi-nya paling mendekati ASI. Sedangkan susu formula sudah buatan pabrik, entah apa yang ada di dalamnya. Sejak hamil saya memang membatasi minum susu sapi dan lebih sering minum susu kambing dan kopi radix (kopi herba, produk dari HPA Indonesia) untuk tambahan nutrisi pada tubuh saya dan janin. Alhamdulillah setelah ruam dan bintik-bintik memenuhi wajahnya di awal kelahiran, yang saya obati juga dengan salep herba, beberapa hari kemudian wajah Sabriyya mulus lagi. Sampai Azizah adik saya heran sendiri, kok Sabriyya bisa mulus banget begitu mukanya padahal ia minum susu tambahan, sedangkan Sholih (anak Azizah) dulu sempat alergi padahal hanya diberi ASI. Mungkin karena saat hamil dulu Azizah menambahi nutrisinya dengan susu sapi UHT. Wallahua’lam juga sih hehehe.. ini sok taunya saya aja :D

Anywaaaaayyyy.. (kenapa jadi ke mana-mana hahahaha..)

Di rumah saya terus berusaha untuk menempelkan PD saya pada Sabriyya, meski ia tetap menolak. Sabriyya terus disuapi susu kambing dengan sendok dan cup feeder. Lalu muncul kekuatiran baru, bagaimana Sabriyya bisa terbiasa menyedot kalau setiap hari ia hanya disuapi dengan sendok dan cup feeder. Sedangkan proses menyedot itu bisa merangsang kerja otaknya juga, kalau kata orang semakin sering dia menyedot akan semakin pintar nanti dia. Bagaimana dengan anakku? masa ia akan tumbuh jadi anak yang bodoh karena nggak terbiasa menyedot? Dengan kekuatiran itu, dan belum adanya teori baru yang bisa membantu latch on Sabriyya pada saya, akhirnya saya suapi Sabriyya dengan menggunakan Tommee Tippee. Dot bayi yang konon memiliki niple yang mirip dengan payudara.

Tommie Tippee

Tommee Tippee

Di hari pertama saya memutuskan untuk menyusui Sabriyya dengan Tommee Tippee, seorang teman bbm saya dan bertanya tentang drama menyusui saya ini, ia dapat info dari suami saya. Saya ceritakan semuanya, dan ia memberikan rekomendasi seorang ahli laktasi bernama Dr. Asti Praborini yang praktek di Kemang Medical Care. Sejujurnya saya sudah mulai skeptikal dengan proses laktasi ini. Tapi teman saya ini terlihat semangat sekali, sampai menawarkan diri untuk menemani saya ke KMC. Akhirnya dengan sisa antusiasme yang ada, saya book sesi dengan dokter Asti di KMC sambil googling tentang sosok dokter ini. Saya datang ke KMC dengan perasaan gamang, ada ketakutan kalau endingnya akan sama seperti di St. Carolus, tapi tetap positif thinking. Selama di ruang tunggu, perut saya terasa mulas karena nervous. Saya sendiri heran, kenapa nervousnya sama seperti saat mengantri dokter gigi? ( i hate dentist, btw ;) ).

Di dalam ruangan dokter Asti, saya dan ande dipersilahkan duduk di bangku yang bersebrangan dengan meja Dr. Asti. Dengan ramah dokter Asti menyapa kami dengan salam, lalu bertanya “Ada yang bisa saya bantu?” rasa mulas saya perlahan-lahan mereda. Saya mulai bercerita tentang kesulitan saya menyusui Sabriyya. Dokter Asti hanya mengangguk-angguk saja, yang membuat saya semakin rileks adalah, dokter Asti tidak melihat saya dengan pandangan menghakimi saat saya bilang kalau Sabriyya sudah diberikan susu tambahan. Ia kemudian meminta izin untuk memeriksa Sabriyya. Saat itulah kemudian dokter Asti mengatakan kalau Sabriyya memiliki Tongue Tie dan Lip Tie dan perlu dilakukan bedah kecil (biasa disebut frenotomi atau insisi). Saat saya googling tentang dokter Asti, memang sebagian besar berita yang saya dapatkan adalah tentang tongue tie dan frenotomi ini. Dokter Asti kemudian menunjukkan kepada saya sebuah buku dengan halaman penuh gambar bayi dengan tongue tie dan lip tie ini dan mengatakan kalau inilah yang membuat Sabriyya tidak bisa menyusu dengan optimal. Salah satu indikasinya adalah kenyataan bahwa saya cadel, karena ternyata cadel ini menurun. Dan orang-orang yang cadel biasanya memiliki masalah tongue tie. Lidah Sabriyya yang tertahan tongue tie inilah yang membuat ia nggak bisa meletakkan puting saya pada tenggorokannya dan memijat aerola untuk ASI yang ia butuhkan. Hal ini juga yang membuat puting saya luka lebih parah dibanding ibu-ibu awal menyusui lainnya. Kalau hal ini tidak diatasi, maka puting saya nggak akan pernah sembuh.

Infant_tongue_position-277x300

Ilustrasi proses menyusui bayi dengan tongue tied dengan yang normal

Lalu prosesnya cepat sekali, Dokter Asti menyodorkan sebuah surat pernyataan persetujuan frenotomi kepada saya lalu menyiapkan alat-alat untuk meng-insisi Sabriyya.  Saya sempat bimbang, karena ini adalah keputusan yang harus saya buat secepatnya dan menyangkut anak pertama saya. Namun dengan Bismillah, jika memang ini yang baik untuk Sabriyya, sambil memohon perlindungan Allah saya tanda tangani surat tersebut. Lalu nggak sampai setengah menit terdengar suara tangis Sabriyya yang kesakitan, Dokter Asti yang sebelumnya meminta saya untuk mempersiapkan PD saya untuk menyusui langsung menempelkan mulut Sabriyya ke PD saya. Alhamdulillah Sabriyya sempat mau menyedot puting saya dan ASI sempat bersemburan ke dalam mulutnya. ASI inilah yang kemudian memberhentikan perdarahan di bawah lidah Sabriyya yang tadi di-insisi. Sesaat kemudian, Sabriyya kembali menarik mulutnya. Saat itulah Dokter Asti melihat indikasi bingung puting yang Sabriyya alami, lalu keluarlah statement itu: “Wah, kalau begini kayaknya musti saya rawat inap nih”. Saya mendengar kalimat itu semacam sedang mendengarkan sabda alam *lebay* karena memang itulah yang saya inginkan. Sudah beberapa hari tersebut saya berpikir untuk dirawat inap saja untuk belajar menyusui Sabriyya, pokoknya sampai bisa. Karena di rumah saya benar-benar nggak tau harus apa.
Saya, tentu saja langsung meng-iya-kan usulan Dokter Asti tersebut. Saya telfon suami untuk meminta izin, Alhamdulillah suami memberi restunya. Lalu resmilah hari itu saya tidak kembali ke rumah Depok, tapi langsung menjadi penghuni sementara kamar Panda rumah sakit tersebut.

Di hari pertama rawat inap, kegiatan yang saya dan Sabriyya lakukan hanyalah skin to skin. Sebelumnya saya sempat diakupuntur untuk merangsang produksi ASI saya yang sudah sangat berkurang, lalu saya diajarkan untuk senam mulut Sabriyya agar tidak ada keloid di luka insisinya. Proses skin to skin hari pertama itu terasa semakin berat dari jam ke jam. Meskipun terdengar simple, saya yang tidak mengenakan selembar pakaian pun kecuali mantel rumah sakit, memeluk Sabriyya yang juga hanya mengenakan diapers saja. Namun Sabriyya terlihat gelisah di pelukan saya, ia menolak untuk saya peluk, badannya ditarik-tarik menjauhi tubuh saya. Saya sempat merasa kecewa dan cemburu pada apapun dan siapapun yang membuat Sabriyya nyaman. Kenapa dia menolak saya, ibunya sendiri? Malamnya Sabriyya terus menangis dan menolak untuk tidur. Saya sudah mulai panik, apakah hal ini normal? kenapa nggak ada satupun dokter atau suster masuk ke dalam kamar kami dan mengatakan kalau ini tidak normal? Apa yang harus saya lakukan? Malam itu Sabriyya tertidur setelah diberikan CTM oleh suster. Hati saya kembali luka, kenapa anak saya harus dicekoki CTM agar tidur? Namun karena itulah prosedur yang datang dari Dokter ahli laktasi, saya berusaha untuk menerima. Daripada ia nggak mau tidur sampai pagi.

Keesokan harinya masih tetap sama, Sabriyya menangis nggak berhenti di pelukan saya, dan masih belum mau menyusu pada saya. Perlahan-lahan rasa percaya diri saya meruntuh. Saya mulai mempertanyakan apakah rawat inap ini akan berhasil? apakah setelah ini Sabriyya akan mau menyusu pada saya? kenapa kami nggak dilatih untuk latch on seperti di St. Carolus dulu, kenapa saya hanya didiamkan dengan skin to skin ini? Bahkan kunjungan Dokter Asti dan Dokter spesialis laktasi lainnya hanya berupa kunjungan biasa yang melihat perkembangan kami dan mengajak saya mengobrol, lalu memberikan motivasi pada saya. Tidak ada sama sekali latihan latch on atau semacamnya. Ada rasa takut kalau semua biaya yang kami keluarkan akan terbuang percuma, namun ada juga perasaan nggak mau menyerah dan nggak akan pulang ke rumah sampai Sabriyya menyusu pada saya.

Lalu terjadilah keajaiban itu, di sore hari kedua rawat inap, Sabriyya mulai tenang di pelukan saya dan tak lagi menarik dirinya. Malamnya ia bisa tidur dengan nyenyak tanpa diberikan CTM, saya bahkan sempat curiga suster memberinya CTM tanpa sepengetahuan saya, hahaha.. jahat ya :P . Lalu paginya, saat saya kembali mencoba menempelkan PD saya pada Sabriyya, ia mulai mau memasukkan mulutnya ke puting saya. Air mata saya perlahan menetes saat melihat mulut itu mulai menyedot puting saya. Sabriyya mulai menyusu pada saya. Saya nggak pernah merasa sebahagia itu. Saya peluk anak gadis Solehah saya itu, dan mulai menangis haru. Ibu saya yang biasanya selalu marah kalau lihat saya menangis, karena kuatir akan menghambat produksi ASI, kali itu membiarkan saja adegan itu berlangsung. Mungkin ia juga takjub dengan apa yang dilihatnya. Hari itu dokter Asti berkunjung dan saya kembali menangis haru saat memperlihatkan Sabriyya yang sedang menyusu pada saya. Tidak berhenti saya ucapkan terimakasih padanya. Dokter Asti meminta saya untuk tinggal sehari lagi untuk diajarkan memberikan susu tambahan pada Sabriyya dengan menggunakan selang dan spuit. Esok siangnya kami sudah diperbolehkan pulang ke rumah.

Sekarang, sudah hampir sebulan sejak rawat inap tersebut dan Sabriyya masih menyusu pada saya. Meskipun masih perlu diberikan susu tambahan lewat selang dan spuit karena produksi ASI saya yang belum kembali maksimal, namun dari hari ke hari perkembangannya semakin baik. Puting saya kini sudah berangsur sembuh, dan PD saya sudah mulai terasa berat oleh ASI kembali. Belakangan ini kami bahkan sudah mulai mengurangi pemberian susu tambahan pada Sabriyya. I can’t wait for that day to come, where i don’t need those goat milk anymore and i can breastfeed my little girl until her 2nd birthday.

Post ini saya buat untuk para ibu yang mengalami kesulitan menyusui seperti saya. I know how it feels when you need help but you dont know where to search. Well, hopefully this story will help.  Meskipun jalan yang ibu-ibu ambil nanti tidak sama seperti jalan yang saya tempuh ini, tapi mari kita berikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Saya sangat berharap semua ibu bisa memberikan ASI eksklusif untuk anaknya tanpa perlu tambahan apapun. Saat terjadi hal-hal yang sekiranya berat saat awal-awal menyusui, teruslah cari informasi dan minta pertolongan dari ahlinya. Tuhan pasti punya alasan kenapa memberikan jalan berat ini untuk saya tempuh, namun dengan terus ikhtiar dan percaya Allah pasti akan berikan jalan keluar, saya jalankan apa yang Allah ingin saya jalankan. Dan semuanya akan indah pada waktunya. Best of luck.

Okay, got to go.. Sabriyya udah bangun. Waktunya menyusui lagi ;)

 

ps: Ternyata nggak semua kasus tongue tie harus dilakukan frenotomi. Saya baru tahu informasi ini setelah pulang dari KMC dan membaca artikel ini : http://mommiesdaily.com/2013/01/23/breastfeeding-101part-ii/

My Breastfeeding Drama (Part 1)

Huaaah akhirnyaa bisa blogging lagi. Okay news flash, saya sudah melahirkan tanggal 12 Maret 2013 kemarin. Bayi perempuan sehat dengan berat 3.1 kg dan panjang 48 cm. Kami beri nama Talia Sabriyya Ihsan, dengan nama panggilan Sabriyya.

IMG-20130313-01051-1

Talia Sabriyya Ihsan (Embun dari surga yang penyabar dan baik hati)

Proses melahirkannya normal, saya akan bercerita lebih banyak di post lainnya tentang ini, karena post kali ini saya lebih akan bercerita tentang proses menyusui Sabriyya yang Masya Allah perjuangannya.

Dulu, ketika masih hamil dan memiliki banyak waktu luang, saya lebih sering mencari informasi tentang kehamilan dan proses melahirkan instead of apa yang akan saya hadapi setelahnya. Akibatnya saya benar-benar miskin informasi tentang menyusui. Saya kira menyusui itu proses alamiah saja. Logika saya, setiap ibu melahirkan pasti akan memproduksi ASI, lalu anak yang baru lahir akan dengan alamiahnya menyusu dengan ibunya. Ternyata salah besar. Sesaat setelah melahirkan, saya dan Sabriyya sudah boleh pindah ke kamar kami sendiri. Mulailah saya mencoba untuk menyusui Sabriyya. Ternyata anak bayi pun harus melalui proses adaptasi untuk menyusui, karena selama ini makanan yang ia konsumsi dihantarkan langsung lewat tali pusat, meskipun secara naluriah pastinya ia tahu cara menyusui. Dan proses IMD dengan Sabriyya berlangsung lancar. Sabriyya melewati semua prosesnya dari tidur sejenak di dada saya, memijit perut saya dengan kakinya, mengemut tangannya sendiri, lalu merayap menuju payudara saya.

IMG-20130327-01067

wajah Sabriyya yang dipenuhi ruam dan bintik-bintik di minggu awal kelahiran

7 hari pertama menyusui Sabriyya rasanya seperti neraka, puting saya lecet dan berdarah. Setiap Sabriyya menangis minta disusui, badan saya langsung tegang, membayangkan nyerinya. Belum lagi cara menyusu Sabriyya masih belum benar, akibatnya air susu belepotan ke mana-mana, akibatnya muncul bintik-bintik ruam di sekitar wajahnya. Belum lagi Sabriyya berulang kali melepas dan menyedot kembali payudara saya. Badan saya menggeliat kesakitan setiap adegan itu berlangsung.

Saat usianya seminggu, tepat saat ia diakikah, Sabriyya menolak sama sekali untuk saya susui. Ia selalu mengamuk setiap saya dekatkan mulutnya ke PD (payudara) saya. Nggak hanya saya yang panik, ibu sayapun ikut panik karena Sabriyya nggak mau berhenti menangis sedangkan ia juga nggak mau menyusu. Rasanya sakit sekali hati saya melihat anak saya sendiri menolak saya susui. Saya sampai berpikir apa dia membenci saya, atau ada masalah dengan ASI saya. Malamnya saya pergi ke rumah mertua untuk menginap di sana, karena esoknya harus kontrol nifas dan IUD. Di rumah mertua, ibu dan mertua saya berusaha untuk memerah susu saya untuk diberikan pada Sabriyya. Susu yang keluar dari PD saya sedikit sekali, hanya setetes-setetes saja. Sabriyya yang sudah kelaparan menangis nggak berhenti seharian itu. Hati saya tambah miris, sayapun nggak berhenti menangis. Hal ini nggak membantu produksi air susu saya sama sekali. Ibu mertua yang sejak pagi wanti-wanti sekali pada saya untuk tidak memberikan Sabriyya susu formula akhirnya menyerah pada pukul 3 pagi. Adik ipar saya pergi mencarikan tempat yang menjual susu formula dan masih buka di pagi-pagi buta seperti itu. Saat itulah untuk pertama kalinya susu formula menyentuh tubuh Sabriyya. Saya? tentu saja menangis tambah kejer.

Siangnya, mama mertua mengusulkan saya pergi ke klinik laktasi St. Carolus untuk konsultasi dengan dokter Utami Roesli. Dokter Utami ini adalah salah satu orang yang menggalakkan IMD di Indonesia, begitu kata mister google. Saya langsung mengiyakan usulan mama itu. Setelah telfon untuk mendaftar, saya baru bisa datang hari rabu nya (saat itu hari selasa). Payudara saya yang sudah dua hari tidak dipakai menyusu mulai terasa berat, hari itu saya putuskan untuk pulang ke Depok dan minta tolong ande untuk meng-akupuntur PD saya. Alhamdulillah PD yang tadinya merah-merah, bengkak dan mengeras sudah terasa lebih baik. Saya terus berusaha untuk menempelkan Sabriyya pada PD saya, dan dia tetap saja menolak :(

Rabu nya saya datang ke St. Carolus. Singkat cerita bertemulah saya dengan seorang dokter senior bernama Dr. Jeanne. Awal-awal sesi konsultasi, Dr. Jeanne bertanya banyak hal pada saya, seperti apakah Sabriyya sudah diberikan susu formula atau belum, apakah selama ini Sabriyya minum dengan dot (sejak awal saya selalu menggunakan sendok untuk menyuapi Sabriyya susu), dll. Saya menjawab pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Dr. Jeanne kemudian menjelaskan kepada saya pentingnya ASI dan mengapa pemberian susu dengan dot kurang baik untuk bayi. Setelah itu saya diminta untuk masuk ke sebuah ruangan di balik tirai di samping ruangan Dr. Jeanne tersebut. Di sana saya diminta untuk duduk di sebuah kursi dan seorang suster mengajarkan saya bagaimana cara memerah ASI dengan benar. Saya yang beberapa hari tersebut berkali-kali gagal memerah ASI saya (baik dengan tangan ataupun dengan breastpump), sangat terpana saat suster tersebut mencontohkan cara memerah dengan benar pada PD saya, dan ASI saya keluar dengan suksesnya. Saya bahkan bisa memerah kurang lebih 20 ml ASI hanya dalam beberapa menit saja. Biasanya boro-boro deh. Setelah mengajarkan saya memerah ASI, suster tersebut mulai mempraktekkan latch on yang benar. Sabriyya ikut dilibatkan di sini. Dan saat itu, mau puting saya dicubit-cubit seperti apapun, dipaksakan masuk ke mulut Sabriyya, ia tetap saja menolak. Semua yang ada di sana sampai ikut kebingungan, apalagi saya. Dr. Jeanne tidak ada pada proses ini, karena ia sudah harus pergi untuk menghadiri sebuah seminar. Saya memang datang terlalu siang saat itu, karena perjalanan Depok – St. Carolus lumayan memakan waktu juga. Dr. Jeanne hanya meninggalkan saya sebuah pesan untuk menyusui Sabriyya selama 20-30 menit (per saat menyusui) lalu setelahnya memerah payudara sebelahnya (yang bukan untuk menyusui) sampai kurang lebih 30 ml lalu menyuapi Sabriyya susu tersebut dengan sendok. Kami diminta untuk datang kembali seminggu setelahnya.

Saya, Sabriyya, Ande, dan Mush’ab (adik laki-laki saya) pulang dengan bingung. Sebenarnya ada sedikit rasa lega karena sudah bisa memerah dengan benar. Tapi, bagaimana saya bisa menyusui Sabriyya selama 30 menit, sedangkan anaknya saja nggak mau menyusu pada saya. Sampai di rumah saya kembali mencoba memerah, dan air susu yang keluar tidak sebanyak saat di St. Carolus tadi. Semuanya terasa salah dan gagal.

Akhirnya dua hari kemudian kami kembali lagi ke St. Carolus, kali ini berangkat lebih pagi. Saat kami datang, belum ada pasien lain yang mengantri. Oh iya, saat Sabriyya di timbang di sini, ketahuanlah kalau berat badannya sudah menyusut menjadi 2.9 kg. Tambah mencelos hati ini :( . Di pertemuan kedua ini saya kembali bertemu dengan Dr. Jeanne yang terkejut karena kami sudah datang hari itu, katanya kalau baru dua hari bagaimana dia mau melihat progres Sabriyya. Saya jawab saja, anak saya belum bisa latch on dokter, apa yang terjadi kalau saya tunggu seminggu baru datang?

Pada pertemuan kedua ini kami fokus pada latch on Sabriyya. Kembali puting saya dicubit-cubit untuk dipaksakan masuk ke mulut Sabriyya. Jangan tanya sakitnya, bukan main, tapi demi anak saya nggak keberatan. Yang membuat saya hesitate di hari itu justru tangisan Sabriyya yang terdengar marah dan putus asa. Karena memang ia dipaksa melakukan hal yang dia nggak suka. Kepalanya didorong paksa ke arah PD saya, mulutnya dipaksa terbuka, mukanya sampai merah karena menangis kejer. Setelah kurang lebih setengah jam, akhirnya saya minta berhenti saja. Percobaan kedua di Carolus masih terhitung gagal. Di perjalanan pulang nyeri pada PD saya terasa semakin dahsyat. Sampai di rumah saya meriang dan menggigil. Beruntung ande adalah therapist, di-akupuntur dan dipijat sebentar, saya perlahan-lahan pulih. Tapi hari itu, Sabriyya rewel seharian, dia nggak bisa tidur dengan nyenyak, setiap matanya terpejam sebentar tak lama kemudian melotot kembali seperti waspada. Sepertinya dia trauma :(

Saya belum menyerah, 4 hari kemudian kami kembali lagi ke St. Carolus, sesuai dengan permintaan Dr. Jeanne. Hal yang terjadi pada pertemuan kedua terjadi lagi, Sabriyya masih menolak latch on dan menangis frustasi, PD saya kembali terasa nyeri dan sekujur badan mulai terasa panas dan lemas. Saya nggak melanjutkan sesi itu lama-lama, saya nggak mau Sabriyya mengalami apa yang dia alami di pertemuan kedua yang lalu. Sesi ketiga tersebut selesai dengan ditutup dengan pernyataan Dr. Jeanne:

Waduh, nggak ada jalan lain ibu, memang harus ekstra sabar.

Pernyataan tersebut sukses membuat saya menutup harapan pada St. Carolus. Sudah cukup, hari itu adalah hari terakhir saya datang. Sudah banyak ibu dan anak yang berhasil latch on atau relaktasi dengan Dr. Jeanne, namun mungkin belum menjadi rezeki saya dan Sabriyya.

to be continued…

Terimakasih

Akad nikah

Saya terima nikah dan kawinnya Sitty Asiah binti Darmadi dengan mas kawin yang tersebut, tunai. -03032012-

Setahun yang lalu, tepatnya sekitar pukul 4 sore, lafal itu diucapkan lantang oleh Reza di hadapan bapak saya, penghulu dan dua orang saksi, juga tentunya sekian banyak tamu yang datang saat itu. Saya, seperti terlihat di foto menyimak dari sisi kanan. Suara Reza lantang sekali saat itu, membuat saya dan adik saya Azizah sedikit tersentak kaget. Tak lama kemudian, tiba-tiba saja semua orang yang ada di meja kecil itu menggumamkan kata “sah” secara bergantian. Lalu Bapak Penghulu mengucapkan Hamdalah dan doa singkat. Resmilah saya dan Reza menjadi suami istri. Selanjutnya berlangsung seperti akad-akad pada umumnya, penandatanganan buku nikah dan beberapa surat lainnya. Sejujurnya perasaan saya saat itu biasa saja, bahagia pasti, tapi tidak terlalu membuncah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Bahkan saat prosesi sungkeman dengan orang tua pun, saya hanya sedikit menitikkan air mata saat memeluk Ande. Semuanya masih terasa seperti mimpi, dan tubuh saya merasa kesulitan untuk menyerap apa yang sedang terjadi.

Namun setelah sekian lama berlalu, saya mengambil dokumentasi dari Nendia (vendor kami saat itu) dan menonton kembali video prosesi akad tadi, tanpa sadar air mata saya menggenang di pelupuk. Saya kembali mendengar betapa lantangnya suami saya mengucap kalimat akad itu. Sangat tergambar jelas di sana kesungguhan hatinya untuk meminang saya dan meletakkan beban tanggung jawab sisa hidup saya ke pundaknya. Ia yang selama ini hidup dengan bebas, terkesan terlalu menikmati masa sendirinya, bahkan keluarga dan teman-teman dekatnya pun menilainya sebagai laki-laki yang susah diajak serius, dengan tegas menyatakan bersedia menanggung semua tanggung jawab hidup saya yang selama ini berada di pundak bapak. Sejak hari itu sampai dengan hari ini, ia terus menunjukkan keseriusannya dan terus berjuang untuk keluarga kecil kami. I feel flattered and blessed.

Sejak kecil dulu, saya tidak pernah tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Saya selalu melihat diri saya sebagai gadis yang gemuk, jelek, tidak pintar, aneh, dan susah bergaul. Jangankan laki-laki, menarik perhatian teman biasa saja saya merasa kesulitan. Saya selalu merasa apapun yang saya lakukan terlihat tidak pantas dan buruk. I was really strugling, especially on high school. Begitu banyak pengalaman pahit saya rasakan yang membuat saya semakin membenci diri saya sendiri. Saat itu saya memilih untuk percaya, bahwa selamanya tak akan pernah merasakan kasih sayang, atau biasa disebut cinta. Nobody will ever love me the way i always dream, nobody will ever take me seriously, dan saya akan berakhir dengan pernikahan yang tidak saya inginkan. Saya akan berakhir menikahi orang yang terpaksa saya nikahi karena usia yang sudah tidak lagi muda. Saat itu, di dalam masjid di daerah Kalibata itu, semua prasangka saya terpatahkan.

Saya sangat percaya dengan kekuatan doa. Saya percaya Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Titik pertemuan saya dengan Reza memang merupakan titik kulminasi dalam hidup saya, di mana menyerah sudah hampir ada di genggaman. Saat itu ketakutan saya akan kesendirian sangat mempengaruhi keputusan-keputusan yang saya buat, and believe me i’ve been making loads of stupid desicion at that time. Akal sehat saya tahu semua yang saya lakukan saat itu adalah bodoh dan akan menyakiti diri saya sendiri, namun kepengecutan saya sering kali menang. Pertemuan saya dengan Reza membuat semua rasa takut itu perlahan hilang. Saya berani mengambil keputusan yang selama ini tersimpan di relung akal sehat saya. Dan Allah mengabulkan satu doa saya saat itu, untuk tidak lagi membuat saya kesepian. Untuk tidak lagi membuat saya sendirian. Hidup saya, penilaian saya terhadap harga diri saya sendiri perlahan berubah. Saya menjadi diri saya yang sekarang.

Setiap hari saya berusaha untuk tidak pernah lupa mengucapkan rasa syukur dan terimakasih saya kepada Allah atas semua cerita yang IA tuliskan di buku kehidupan saya. Every bits of it. Saya juga berusaha untuk tidak pernah lupa mengucapkan terimakasih kepada suami saya, meskipun ia selalu bertanya “Terimakasih untuk apa?”. Karena hidup yang saya jalani saat ini pernah menjadi angan-angan belaka. Karena sampai hari inipun saya tidak pernah lupa perasaan takut dan hampir menyerah itu. Tentu saja saya bersyukur, tentu saja saya berterimakasih.

Happy 1st wedding anniversary sayangku. Terimakasih untuk semuanya :)

New Year New Lessons

Januari belum juga berakhir, tapi kejadian-kejadian penting penuh pembelajaran udah bertebaran aja di mana-mana :D

Sejak akhir tahun lalu kami sekeluarga sudah mempersiapkan satu kejadian penting yang akan terjadi di awal tahun ini, lahirnya satu anggota keluarga baru dari rahim kakak ipar saya.  Jadilah sejak minggu-minggu pertama Januari, mbak Nia menetap di Rasamala. Saya kebagian tugas menemani mbak Nia jalan-jalan di mall untuk memperlancar pembukaan. Tapi karena cuaca yang kurang mendukung, baru satu hari saya menemani mbak Nia menyusuri Kota Kasablanka, saya malah ambruk. Beruntung masih ada stock herba dan kopi Radix di rumah Rasamala, jadilah saya minum herba-herba itu sesering mungkin. I can feel my body fighting back the viruses, walhasil saya tetap kena flu, tapi nggak separah yang kemungkinan bisa terjadi. I love herba ;)

Setelah mules-mules selama kurang lebih satu minggu, tanggal 13 Januari 2013 kemarin, akhirnya lahirlah si mungil yang ditunggu-tunggu. Kairi Fairuzia lahir dengan proses persalinan normal dengan berat 3.3 kg. Resmi sudah Sora Willens menjadi kakak. Look at this picture, can you see how proud Sora is?

Image

Sora & Kairi

Proses kelahiran Kairi dan kehadiran Kairi di rumah menjadi salah satu pelajaran berharga bagi saya yang insya ALLAH juga akan melahirkan anak pertama kami di bulan Maret nanti. Newborn baby itu kecil banget yaaa.. gendongnya serba salah sendiri jadinya, takut kenapa-kenapa, apalagi mandiinya, haduuuh ngeliat Mama mandiin Kairi aja rasanya udah nervous sendiri hahaha.. but Insya ALLAH i will learn fast, amin.

Another important lesson, sebenarnya didapat sebelum kelahiran Kairi. Remember i wrote about moving to the apartment in Ancol in my last post? Memiliki tempat tinggal sendiri dan menjadi mandiri adalah impian saya bahkan sejak sebelum saya menikah. Saya, entah kenapa nggak pernah berjodoh dengan pengalaman yang satu itu. Dulu sempat ingin sekali kost di dekat kampus, walaupun rumah pun terbilang kepleset nyampe dari kampus. Tentu saja niat itu ditolak habis-habisan. Waktu kerja sempat juga ingin mengambil salah satu kamar kost yang kosong di samping kamar kost rekan kerja, tapi kemudian saya malah disuruh pulang pergi naik motor. Sekarang saat sudah berkeluarga dan seharusnya kesempatan tinggal sendiri dan mandiri menjadi lebih besar, kok ya ndilalah malah susah juga. Padahal setelah menulis post ini sepertinya ALLAH memberikan jalan untuk bisa menyewa apartemen di daerah Ancol dengan harga yang jauh lebih rendah dari pasaran. Wyna salah satu teman mengajar dulu menulis komentar yang membuat saya deg-degan luar biasa pada post tersebut. Setelah di-follow up, sampai kemudian survei ke lokasi, bayangan hidup sendiri seperti sudah menari-nari di hadapan. Tinggal satu langkah lagi, saya bisa sampai ke impian tersebut. Tapi sayang, sepertinya ALLAH memang belum memberi izin. Setelah memohon ketenangan untuk berfikir, setelah sebelumnya sempat sangat emosional sampai memohon-mohon pada suami untuk memberi kesempatan itu pada saya, akhirnya ALLAH seperti memberikan keikhlasan kepada saya untuk bersabar lagi. Mempertimbangkan kondisi di mana saya dan Reza masih membutuhkan banyak biaya untuk kelahiran anak pertama kami dan sebagai modal usaha baru kami, ALLAH kemudian memberikan rasa lega di dalam hati saya saat mengatakan kalimat sakti itu pada suami saya.

Sayang, apartemennya nggak usah kita ambil dulu yah. Uangnya masih perlu ditabung dulu.

Tentu saja air mata sempat mengambang di pelupuk mata saat akhirnya mengucap kalimat itu. Tapi di dalam hati ini saya yakin ALLAH akan memberikan kesempatan itu pada saat yang tepat nanti. Dan ketika waktu itu datang, segala sesuatunya pasti akan berjalan dengan lancar. Amin.

Pelajaran berharga selanjutnya berhubungan dengan bisnis baru kami. Sejak awal tahun ini, kami Insya ALLAH sudah mulai membuka booth ayam A’baik kami.

Image

Ayam Goreng Organik A’baik

Dibuka di depan Fire Net (warnet milik adik ipar) di daerah Pondok Kelapa. Sebenarnya niat untuk membuka usaha ini sudah tercetus dari pertengahan tahun lalu. Awalnya mau dibuka di Depok, tapi rupanya ALLAH memberikan jalannya untuk dibuka di daerah Pondok Kelapa. Saya selama ini nggak pernah membayangkan memiliki usaha sendiri, nggak pernah berani membayangkan sebenarnya, mengingat kepercayaan diri saya di bidang ini terbilang kecil. I’d rather work for a company and get paid every single month than have to maintain my own bussines. Pengecut sebenarnya, takut malah jadinya rugi bandar hahaha.. Tapi karena sekarang sudah ada suami yang semangat wiraswasta-nya tinggi, dan ande yang juga kasih semangat, akhirnya dengan modal nekat dibelilah franchaise ayam ini.

Belum sebulan kami mulai usaha ini, weekend kemarin kami sudah diberikan tantangan. Alkisah stock ayam di booth kami semakin hari semakin menipis. Alhamdulillah, ini menandakan penjualan yang berjalan dengan lancar. Setelah pesan di pemasok yang biasanya, ternyata mereka juga sedang kehabisan stock. HALAH. Dan nggak mungkin juga kami menunggu stock di pemasok tersebut datang, karena persediaan sudah benar-benar menipis. Akhirnya kami memutuskan untuk mengambil stock ayam dari daerah Bekasi Utara. Sejak pagi saya menghubungi bapak pemasok dari Bekasi tapi nggak juga dapat jawaban. Dengan nekatnya, saya dan Reza meminjam mobil Mama pergi ke Bekasi Utara. Hanya berbekal google Maps dan alamat yang diberikan sebelumnya, sambil terus berusaha menghubungi bapak Bekasi. Alhamdulillah perjalanan kami terbilang lancar, tapi sampai lokasi kami malah dihadapkan dengan satu fakta bahwa daerah tempat tinggal bapak Bekasi terkena banjir sampai setinggi lutut. Reza nekat saja melewati banjir itu, Alhamdulillah ALLAH masih melindungi kami dari bencana mati mesin :D

Tapi rupanya ALLAH masih belum memberikan kami kesempatan untuk bernafas lega. Perjalanan pulang menuju Pondok Kelapa yang sama-sama belum pernah kami tempuh sebelumnya menanti di hadapan. Hape samsung saya dan Reza sudah sama-sama habis baterai. Akhirnya mengandalkan google maps pada blackberry saya. Real time nya google maps di Blackberry yang nggak secanggih Samsung membuat kami kebingungan saat berhadapan dengan salah satu pertigaan. Peta di tangan saya mengatakan kami masih harus lurus, tapi jalan di hadapan sudah bercabang-cabang. Pengambilan keputusan yang terbilang terlambat membuat Reza harus melakukan manuver belok kanan tajam, lalu DUAR! ban belakang sebelah kanan menabrak separator. Mobil mulai terasa oleng, benar saja setelah diperiksa ternyata ban belakang sebelah kanan kempes sekempes-kempesnya. Situasinya saat itu sedang di tengah gerimis yang sudah turun sejak kami beranjak dari Bekasi Utara. Jalanan sudah basah dan licin, udara pun sudah terasa dingin, sedangkan bengkel tak terlihat di manapun. Akhirnya diambillah keputusan untuk mengganti ban tersebut dengan ban serep yang ada.

ayah Reza is doing his best

ayah Reza is doing his best

Di tengah hujan yang semakin deras itu, Reza mengganti sendiri ban yang bocor itu dengan ban serep. Saya sempat kebagian tugas untuk memayungi Reza sebelum akhirnya disuruh menunggu di dalam mobil saja karena hujan turun semakin deras. Saya sebenarnya sangat ingin menemani Reza di luar sana, tapi mengingat sedang mengandung, rasanya resiko sakit setelahnya malah nanti akan membuat Reza menjadi semakin repot. Akhirnya saya memperhatikan saja perjuangan suami dari dalam mobil sambil terus berdoa agar tak ada orang yang berniat jahat menghampiri kami, dan agar setelah ini Reza nggak tambah sakit, karena sebenarnya hari itu ia sedang menjalani sick leave karena gejala typhus. Sudah berulang kali kisah ini saya ceritakan pada keluarga di Rasamala dan Depok, tapi rasanya tak cukup menggambarkan bagaimana terharu dan bangganya saya pada suami saya saat itu. At times like this, being husband and wife feels real.

Setelah ban selesai diganti, kami melanjutkan perjalanan menuju Pondok Kelapa. Reza sempat membahas tentang laporan keuangan dengan dua pegawai kami di sana. Akhirnya sekitar jam 7 malam kami bertolak ke Tebet untuk menjemput Mama Yvonne yang sedang menemani mbak Nia dan adik Kairi. Di perjalanan pulang ini pun kami kembali berhadapan dengan satu cobaan. Kami sempat dibuang ke Cililitan karena ada luapan air yang datang di daerah setelah Pasar Gembrong. Alhamdulillah saat kami tiba di jalan itu, air masih belum tinggi. Reza nekat saja melewati luapan air itu, Alhamdulillah kami aman sampai di Puskesmas Tebet.

Hufff.. what a day. Ternyata hari itu juga merupakan hari yang berat bagi seluruh bagian Jakarta. Hujan yang nggak juga reda sampai keesokan harinya membuat Jakarta tergenang air, sampai bunderan HI pun terlihat seperti banjir susu coklat. Banyak foto daerah-daerah yang kebanjiran beredar di media social. Saya pun semakin bersyukur karena apa yang kami alami saat itu masih terbilang ringan. ALLAH surely wants to show us HIS blessings despite all of those trouble.

Selama sehari itu saya nggak merasa over worried sama sekali, knowing that i have Reza on my side, i know everything will be okay. Dan kalaupun nggak, setidaknya saya mengalaminya bersama Reza. Maybe this is what they call love :)

Bee

On three two one, it’s 2013!!

Bismillah, Happy new year all :)

Rasanya belum lama deh nulis Review tahun 2011, kok sekarang sudah awal tahun 2013 aja. Lots of HUGE things happened last year and most of it was always been a resolutions for sooo many years :D

Firstly, tahun 2012 dibuka dengan salah satu milestone yang selalu menjadi resolusi akhir tahun sejak beberapa tahun sebelumnya. I am getting married. Tepatnya tanggal 3 Maret 2012 kemarin, Alhamdulillah saya dan Reza resmi sudah menjadi sepasang suami istri. The event was very beautiful, everything went really well. Meskipun rombongan saya sempat telat sampai di lokasi akad, dan keduluan sama rombongan keluarga Reza. Hampiiiir saja gagal diumpetin di belakang mimbar masjid, tapi untungnya banyak yang kooperatif, jadinya Reza berhasil nggak lihat saya dulu sampai waktunya pembacaan akad :D

03.03.2012

03.03.2012

I was really nervous that time, moment di saat keluar dari persembunyian, dan melihat Reza, Bapak, penghulu, dan dua saksi di meja kecil itu rasanya nggak bisa hilang dari memori. Apalagi saat dengan lantangnya Reza menjawab akad nikah yang dihaturkan bapak padanya. Saya sempat kaget juga mendengar betapa Reza rasanya seperti berteriak tegas, mengatakan “Saya terima nikah dan kawinnya Sitty Asiah binti Darmadi dengan mas kawin yang tersebut tunai!”. Itulah pernyataan cinta paling indah yang pernah saya dengar selama hidup. Terimakasih sayangku, terimakasih karena sudah bersedia menjadi Imamku :)

Acara resepsi juga berlangsung lancar, saya bahagia banget lihat banyak teman-teman yang meluangkan waktu untuk datang. Hermesian bahkan sempat sumbang suara menyanyikan lagu Satu Dalam Sejuta Hasta bareng-bareng. Murid-murid SIF Al Fikri juga banyak yang datang, i was really surprised seeing them, i wanted to just hug them one by one. One of the best moment in life banget deh pokoknya. Start of my new beginning :D

USG Pertama

After those firstly, came another HUGE news. I am pregnant. Di awal bulan Juli akhirnya muncullah dua garis di dua test kehamilan yang saya ambil. Nggak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana campur aduknya perasaan saya saat itu. Senang tentu saja, tapi sekaligus takut dan kebingungan hahaha.. I was about to become a mom, ada bibit manusia baru yang tumbuh di dalam rahim saya. Akhirnya sering sekali tanya dan baca sana sini tentang kehamilan ini. Hari ini kehamilan saya sudah memasuki trimester akhir. Insya Allah bulan Maret tahun ini akan hadir anak pertama saya dan Reza di rumah tangga kami. Banyak hal saya lalui berkaitan dengan kehamilan ini, dari mabuk berat di trimester pertama sampai makan apapun nggak selera. Sampai akhirnya menggila di trimester kedua sampai berat badan sempat naik drastis dan dibilang kegemukan sama bidan dari Puskesmas Tebet. Lalu kemarin waktu terakhir kali check up, detak jantung baby sempat mencapai 170/menit (normalnya max 160/menit). Saya dinyatakan animea sedangkan tekanan darah terhitung tinggi. Wuah.. panik luar biasa deh saat itu. Minta maaf beeerkali-kali sama anak dan suami, akhirnya sejak saat itu rajin sekali minum vitamin dan kali ini minumnya lebih lengkap dari biasanya. Haha.. balada bunda malas minum obat :D

Dua kejadian penting itu ditutup dengan resign nya saya dari pekerjaan yang sudah saya tekuni selama dua tahun terakhir. I am leaving my children at school, hiks :( Akhirnya resmi menjadi a stay at home housewife lah saya. Dan dengan diterimanya Reza di kantor barunya, kami juga pindah domisili ke Rasamala.

Well, nggak begitu banyak yang bisa saya ceritakan tentang tahun 2012. But yet satu tahun ke belakang merupakan satu tahun yang sangat berkesan bagi kehidupan saya. Begitu banyak rencana untuk tahun 2013 ini, semoga Allah selalu berikan jalan yang terbaik untuk saya dan keluarga kecil saya.

Di tahun 2013 nanti Insya Allah saya dan Reza akan…

  1. Pindah ke apartemen kecil di daerah Ancol, membangun keluarga kecil kami. Thanks ayah for the opportunity, Bismillah we can do this :)
  2. Melahirkan anak pertama kami, Insya Allah di Puskesmas Tebet. Semoga nggak ada aral melintang dan saya bisa melahirkan dengan proses normal dan lancar. Amin Yaa Rabb.
  3. Membuka bisnis kuliner kami yang pertama, Ayam Abaik (ayam organic, Halalan Thayiban) di Pondok Kelapa. Semoga Allah membukakan pintu Rezeki untuk usaha baru kami ini. Amin.
  4. Untuk saya, semoga di tahun ini saya bisa menulis kembali dan menghasilkan karya yang real dan jual-able. Amin :D
  5. Insya Allah akan pindah ke rumah BSD ketika pembangunannya sudah selesai. Semoga bisa menemukan jalan keluar untuk transportasi Reza menuju tempat kerjanya di Tanjung Priuk, amin.
  6. Semoga saya bisa membahagiakan Ande dan Bapak, apapun itu caranya.

After all, saya berharap kehidupan di tahun 2013 ini bisa lebih baik dan saya bisa membesarkan anak kami dengan baik dan adil. Amin yaa Rabb.

Bee

%d bloggers like this: